Mantan Menkeu Yaman Tanggapi AM Hendropriyono, Sebut Amerika Kalah di Perang Dagang

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Kamis, 10 April 2025 | 10:02 WIB
Eks Menteri Keuangan Yaman, Nu'man Thahir Shalih As Shuhaibi mengatakan bahwa AS kalah perang dagang. (SenayanPost.com)
Eks Menteri Keuangan Yaman, Nu'man Thahir Shalih As Shuhaibi mengatakan bahwa AS kalah perang dagang. (SenayanPost.com)

SENAYANPOST - Perang dagang yang dimulai oleh Amerika Serikat (AS) dalam bentuk tarif pajak dan beacukai sejumlah barang dari berbagai negara, telah ditiupkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Guru Besar Filsafat Intelijen Prof Dr Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono pada Rabu 9 April 2025 kemarin menyerukan konsolidasi nasional sebagai salah satu syarat kemenangan dalam menghadapi perang ekonomi global dan permainan kaum imperialis kapitalis.

Seruan ini menarik perhatian Mantan Menteri Keuangan Yaman Nu'man Thahir Shalih As Suhaibi, karena seruan tersebut sangat tepat dalam kondisi situasi global saat ini.

Baca Juga: AM Hendropriyono: 印尼将能够在全球经济战中生存下来

Dihubungi SenayanPost.com pada Kamis 10 April 2025 pagi waktu Indonesia atau Rabu 9 April 2025 waktu Amerika Serikat, Menteri Keuangan Yaman periode 2007 - 2011 atau periode terakhir mendiang Presiden Yaman Ali Abdullah Shalih ini memuji langkah Presiden Indonesia Prabowo Subianto yang mengkonsolidasikan beberapa negara Asia Tenggara dalam menghadapi kebijakan resiprokal Presdien AS Donald Trump.

"Tarif yang dikenakan atas Negara Arab tidak besar, karena komoditasnya terbatas. Berbeda dengan negara-negara Asia Tenggara," jelasnya.

Mantan Direktur Jenderal Urusan Pajak Kementerian Keuangan Yaman ini menjelaskan bahwa kebijakan Presiden AS Donald Trump justru akan berdampak lebih buruk kepada kondisi perekonomian AS sendiri.

Baca Juga: Indonesia is Capable of Surviving a Global Economic War

"Beberapa waktu ke depan akan semakin jelas beberapa kebijakan ini sejauh mana memberikan pengaruh pada kebijakan tersebut atas kondisi dalam negeri Amerika yang justru lebih banyak dampaknya dari pada negara-negara yang dikenakan kebijakan tersebut," ungkapnya.

Pejabat karir di sektor perpajakan Republik Yaman ini mengungkapkan bahwa Pemerintah AS sendiri akan meninjau kebijakan resiprokal Presiden AS Donald Trump.

"Dia (Presiden AS Donald Trump, red) pasti akan meninjau ulang kebijakan ini," tegasnya.

Baca Juga: إندونيسيا ستفوز في الحرب الاقتصادية العالمية

Tokoh yang dapat diterima semua elemen politik Republik Yaman ini menjelaskan bahwa kebijakan resiprokal ini hanya bertujuan agar setiap negara melakukan negosiasi dengan AS untuk memperkuat kepentingan-kepentingan AS di negara-negara tersebut.

"Ini hanya tekanan atas negara-negara terkait untuk bersedia bernegosiasi dengan AS," pungkasnya.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X