Islam, Akal Sehat, dan Perlawanan terhadap Narasi Ekstrem

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Jumat, 11 April 2025 | 12:47 WIB
Ilustrasi, di tengah riuhnya dunia digital, warga membutuhkan percakapan Islam yang berdasar akal sehat untuk melawan narasi ekstrem. (Unsplash.com/dole777)
Ilustrasi, di tengah riuhnya dunia digital, warga membutuhkan percakapan Islam yang berdasar akal sehat untuk melawan narasi ekstrem. (Unsplash.com/dole777)

Itulah titik yang membuka mata saya. Bahwa narasi waras—yang berpijak pada tradisi Islam klasik dan rasionalitas modern—masih punya tempat. Ia hanya perlu disuarakan.

Baca Juga: Mantan Menkeu Yaman Tanggapi AM Hendropriyono, Sebut Amerika Kalah di Perang Dagang

Islam bukan milik mereka yang paling keras berteriak. Islam adalah agama ilmu.

Lihatlah warisan keilmuan kita: dari logika Imam Fakhruddin Ar-Razi, etika Imam Nawawi, hingga strategi dakwah Wali Songo yang penuh kebijaksanaan.

Semua itu menunjukkan bahwa Islam tumbuh dan menang bukan karena emosi, tapi karena akal, hikmah, dan adab.

Perlawanan terhadap ekstremisme hari ini tidak selalu harus dengan stempel radikalisme atau laporan ke platform.

Terkadang, cukup dengan diskusi yang masuk akal dan menunjukkan bahwa menjadi waras itu bukan berarti kompromi.

Baca Juga: AM Hendropriyono: 印尼将能够在全球经济战中生存下来

Justru itu bentuk paling murni dari jihad intelektual.

Dan siapa tahu, dari percakapan-percakapan kecil itulah, peradaban dimulai kembali.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X