Salah satunya adalah kemiripan yaitu suatu hubungan yang memerlukan kontak langsung, termasuk penglihatan. Tuhan Yang Maha Esa menjadikannya tampak jelas atau dapat dirujuk dengan tanda-tanda yang diberikannya dan diperintahkannya kita untuk menirunya.
Kedua adalah bahwa konsep yang penggunaannya telah mapan di bidangnya dan yang menyampaikan maksud ‘lebih dekat’ terhadap suatu tauladan, sehingga bebas dari kecurigaan persaingan yang mungkin masuk ke dalam konsep peniruan, terutama meniru atau mengikuti.
Ketiga yaitu teladan sempurna di mana yang harus diteladani adalah manusia sempurna. Tidak ada manusia yang lebih sempurna dari Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, para filsuf muslim yang sering mengedepankan pendapat ‘Meniru Tuhan’ harus menggantinya dengan pendapat ‘Meniru Nabi Muhammad SAW.’
Oleh karena itu, seorang filsuf muslim dalam berusaha mengenal dirinya sendiri, harus meneladani Nabi Muhammad SAW untuk mencapai kehidupan yang baik dalam pendekatan rasional dan mentauladaninya dalam jalur moral.
Pertama, yaitu mentauladani dalam pendekatan rasional. Nabi Muhammad SAW tidak berbicara tentang metode kontemplasi seperti yang dilakukan para filsuf yang kognitif. Sebaliknya, Nabi Muhammad SAW akan mengasingkan diri untuk merenung pada waktu yang berbeda dan berhari-hari secara terus menerus, sampai datang kepadanya wahyu. Dalam perenungan yang panjang ini, Nabi Muhammad SAW menyadari bahwa hal yang tertinggi adalah akal yang dapat mencapai sifat, sehingga mengambilnya sebagai sebuah karakter moral, yang disebut Al Amin atau yang jujur. Karena ketulusan adalah pengakuan akan kebenaran, dan tujuan dari pendekatan rasional, khususnya, adalah untuk mencapai Kebenaran dan pengakuannya.
Para filsuf muslim tidak bisa tidak menganggap ketulusan sebagai nilai rasional tertinggi. Terlebih lagi, ketulusan membawa Nabi Muhammad SAW kepada kebenaran tertinggi, yaitu tauhid. Maka, mau tidak mau, kita harus menganggap ketulusan sebagai sebuah nilai. Yaitu sebuah mentalitas yang terhubung dengan cakrawala ketuhanan, sehingga tidak ada realitas yang tidak memiliki hubungan khusus dengan cakrawala ini yang harus dikaji.
Oleh karena itu, para filsuf muslim merasa perlu untuk menyesuaikan metode rasional yang mengarah pada pengetahuan diri, karena kebenaran yang diraihnya harus terhubung dengan cakrawala ketuhanan. Hubungan ini mengharuskann untuk melampaui metode rasional yang mengambil fakta yang tidak mengindahkan cakrawala ketuhanan dengan pendekatan rasional yang abstrak dengan mencari pendekatan rasional yang menjaga hubungan dengan cakrawala ketuhanan. Karena dalam hubungan ini ada petunjuk bagi cara berpikir. Artinya, hubungan ini memerlukan permintaan pendekatan rasional yang jelas.
Maka, kesadaran para filsuf muslim akan perlunya bimbingan ilahiyah dapat membuat mereka mentauladani dengan metode kontemplasi kenabian menuju suatu kebenaran tauhid.
Kedua, meneladani Nabi Muhammad SAW dalam akhlak. Jika ketulusan Nabi Muhammad SAW merupakan bukti pencapaian pada perenungan yang sempurna, maka ketulusan itu merupakan bukti pencapaian akhlak yang sempurna. Kaumnya pun memanggilnya dengan sebutan Al Amin yaitu orang yang jujur. Satu-satunya hal yang memotivasi mereka untuk menerima apa yang disampaikan Nabi Muhammad SAW ini adalah kesadaran mereka bahwa beliau dilahirkan dengan ketulusan dan kejujuran, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa menandinginya dalam diri mereka, dan sama seperti ketulusannya, termasuk menghubungkannya dengan ketauhidan. Demikian pula kejujuran yang menghubungkannya dengan keadilan di antara manusia, sehingga keadilan yang disampaikan Nabi Muhammad SAW adalah keadilah yang berkaitan dengan ketauhidan. Maka, dengan ini ketauhidan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW berlandaskan kejujuran dan keadilan. Maka dari itu, ketulusan adalah fitrah kemanusiaan yang menjadi lansadan paling dasar dalam Agama Islam.
Oleh karena itu, kesadaran filsuf muslim terhadap kebenaran hakikat keagamaan menjadikannya meneladani dengan pengetahuan dirinya akan 2 (dua) rel etika Nabi Muhammad SAW yaitu sifat kejujuran dan keadilan.