Ketika Budhy ingin melanjutkan studi, Mansour memaksa Budhy kuliah di STF Driyarkara.
Baca Juga: Terjemahan Lirik Lagu XO Only If You Say Yes dari Enhypen
Budhy "dilarang" Mansour kuliah di IAIN atau UI, tapi harus di STF, dan Budhy mengikuti "paksaan" Mansour tadi.
Celakanya, justru di STF inilah Budhy mengenal lebih dekat Nurcholish Madjid dan Djohan Effendi.
Keduanya adalah dosen di sekolah filsafa,t yang didirikan Gereja Katholik ini.
Dari situlah sosok Budhy Munawar-Rachman terbentuk.
Baca Juga: Apakah PBNU Bakal Sanksi 5 Nahdliyin yang Temui Presiden Israel? Ini Penjelasannya
Berkat kedekatan dengan Mansour, Budhy mendalami transformasi sosial dan sempat menjadi salah seorang "direktur" di Asia Foundation.
Kedekatannya dengan Cak Nur, menjadikan Budhy seorang pegiat toleransi dalam Islam.
Dan kedekatannya dengan Djohan Effendy, menjadikan Budhy seorang pegiat toleransi Antariman.
Terakhir kedekatan Budhy dengan Denny JA (sejak kuliah, diteruskan di Kelompok Studi Proklamasi hingga hari ini), menjadikan Budhy bergerak lebih jauh.
Baca Juga: Fakta Baru Thomas Matthew Crooks, Penembak Donald Trump saat Kampanye di Pennsylvania
Bukan hanya menjadi sosok aktivis toleransi antariman, tapi juga mendukung gagasan transformasi agama Denny JA yang melebar amat luas.
Yaitu "Agama Sebagai Warisan Kultural". Agama, kata Denny, adalah milik bersama umat manusia. Karena itu agama adalah warisan kultural umat manusia.
Gagasan Denny JA kemudian didukung Budhy. Keduanya berusaha menumbuhkan kesadaran di ruang publik untuk memiliki semua agama. Dan karenanya perlu merayakan hari-hari besar semua agama.