Oleh: Syaefudin Simon, Kolumnis
SENAYANPOST - Budhy Munawar-Rachman, mendapat anugrah Insan Pancasila 2024, kategori Lintas Iman dari BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila).
Tasyakurannya diadakan di resto Korea Yongdaeri, Mall of Indonesia, Jaktim oleh kelompok Creator Club, Jumat 12 Juli 2024.
Hadir Denny JA, Elza Peldi Taher, Muhamad Asrun, Fatin Hamama, Isti Nugroho, Satrio Arismunandar, Nita, Amel Fitriani, Monica Anggi, Swary Utami Dewi, Jonminofri, Ali, dan aku.
Budhy, 61 tahun, sebenarnya seorang "Gus" keturunan seorang kyai NU asal Bojonegoro yg juga profesor riset (APU), Abdul Rachman Saleh, dosen UIN Ciputat.
Baca Juga: Gegara 5 Warga NU Temui Presiden Israel, 'Netanyahu United' Viral di Media Sosial
Budhy, pendiri Nurcholish Madjid Society (NCMS), mengaku kedekatannya dengan Cak Nur sebetulnya bersebrangan dengan minat ayahnya.
Sang ayah tidak menyukai pemikiran-pemikiran Islam Cak Nur dan Harun Nasution (mantan rektor UIN Ciputat), tapi Budhy sebaliknya.
Bahkan disertasinya di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, membahas pemikiran Islam Nurcholish Madjid.
Kenapa sekolah di STF, tidak di IAIN atau UI? Budhy mengaku dirinya adalah "korban Mansour Fakih" seorang pegiat LSM, doktor sosiologi Massachusetts, AS yang menggeluti transformasi sosial dan rasionalisme Islam.
Baca Juga: Hamas Bantah Mundur dari Negosiasi Gencatan Senjata di Gaza, Sebut Netanyahu Halangi Kesepakatan
Seperti halnya "korban-korban" Mansour Fakih yang lain -- di antaranya Kyai Husein Muhamad dan Kiai Masdar Mas'udi, keduanya kemudian menjadi tokoh LSM -- Budhy pun "jatuh cinta pada kajian gender dan tranformasi sosial serta rasionalisme Islam".
Budhy sempat menjadi "anak emas" Mansor Faqih, yang mendorong agar Cak Nur lebih progresif dalam mewacanakan agama.
Agama, kata Mansour, harus terlibat langsung dan menjadi pionir dalam transformasi sosial.