Kedua faktor, yang bisa dikatakan sebagai faktor utama itu yang membuat proyek invensi sebagaimana dilakukan pada masa Abbasiyyah awal berhenti.
Baca Juga: Opini: Akan Menguatkah, Tafsir yang Tak Lagi Harus Hewan Dijadikan Kurban Ritus Agama
Umat Islam lebih sibuk membahas penguatan positioning politik di antara sesama mereka, melalui perdebatan ilmu kalam dan ilmu hadits.
Kondisi itu jelas memberi pengaruh psikologis di dalam pembelajaran keagamaan.
Filter pemikiran pun dibangun sebagai alat menolak masuknya infiltrasi pemikiran kelompok-kelompok yang berseberangan.
Baca Juga: Tiga Makna Penting Wukuf di Arafah, Nomor Dua Jangan Sampai Terlewat Jamaah Haji
Kelompok Asy'ariyyah menolak merembesnya pemikiran kelompok Mu'tazilah.
Demikian sebaliknya, Kelompok Syi'ah tidak mau kalah dengan memfilter semua pemikiran kelompok umat Islam yang berseberangan dengan mereka.
Begitu juga dengan kelompok Khawarij yang belakangan berubah menjadi Ibadhiyyah.
Baca Juga: Hobby Kaum Salafi
Situasi itu barangkali yang membuat para ulama tidak lagi memperhatikan pembahasan lain di luar aqidah dan syari'ah, termasuk pembahasan tentang sains.
Dalam bahasa yang mudah, kita bisa mengatakan bagaimana mungkin kita mengkaji hal-hal yang rumit sedangkan pada saat yang sama kita dihadapkan dengan kerumitan hidup.
Pandangan itu yang bisa kita gunakan ketika membaca pemikiran Imam al-Suyuthi yang seperti menyalahkan sains, di dalam karyanya Tafsir al-Jalālain.
Baca Juga: MADINAH YANG MENYALA
Namun ini pun harus kita klarifikasi, apakah benar Imam al-Suyuthi di dalam Tafsirnya menolak pandangan bahwa bumi itu bulat.