Menelusuri Kronologi Gaduh Debat Nasab di Media Sosial

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Senin, 5 Juni 2023 | 14:52 WIB
Pendiri Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq saat Reuni Alumni Demo 212 di Jakarta, baru-baru yang menyerukan ideologi NKRI Bersyariah.  (suaramerdeka.com/dok)
Pendiri Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq saat Reuni Alumni Demo 212 di Jakarta, baru-baru yang menyerukan ideologi NKRI Bersyariah.  (suaramerdeka.com/dok)

Selain merespon sikap reaktif Habib Rizieq, publik dunia maya juga merespon positioning kalangan habib sembari membandingkannya the missing habib dari kalangan Azmat Khan. Perdebatan itu menggiring opini publik untuk menilai keabsahan nasab habib dengan menggunakan parameter etis.

Sebagian akun facebook kemudian membangun narasi tanding tentang habib jawa yang tidak pernah mengaku keturunan Rasulullah tapi akhlaknya mendekati Sang Rasul. Kemunculan narasi tentang habib Jawa ini terbilang aneh, karena yang selama satu tahun berpolemik adalah Habib Azmat Khan yang berada di wilayah Barat Jawa bukan di Jawa.

November 2016, Habib Rizieq mengadakan demo menuntut pertanggungjawaban Gubernur Basuki atas pernyataannya yang dinilai "menghina" al-Qur'an. Lagi-lagi fokus perhatian publik diarahkan kepada kualitas etis seorang habib.

Seorang selebriti di dalam materi stand up commedy-nya membuat komparasi antara Quraish Shihab dan Rizieq Shihab. Dia membuat narasi bahwa meskipun sama-sama Shihab tapi kualitasnya berbeda. Ringkasnya, selebriti itu ingin mengatakan bahwa Shihab yang satu beradab, dan Shihab yang satu lagi nir-adab (untuk tidak mengatakan biadab).

Desember 2016, situasi politik makin memanas. Publik di media sosial tidak lagi membincang tentang Habib Azmat Khan atau Habib Arab. Publik lebih tertarik untuk memperdebatkan apakah Gubernur Basuki bersalah atau tidak.

Januari 2017, istilah "kadrun" dipopulerkan. Istilah ini dipakai untuk mengidentifikasi semua orang yang punya kedekatan emosi dengan Habib Rizieq. Benih-benih keraguan terhadap para habib keturunan Arab ini mulai disebar. Yang menarik, ada seorang keturunan Arab yang meminta agar keturunan Arab lainnya mawas diri dan tahu diri dengan keberadaan mereka di Indonesia.

Dalam kurun waktu 2017, narasi pribumi dan non pribumi diangkat sebagai bahan perdebatan. Narasi itu bahkan mengangkat isu agama pribumi dan agama non pribumi. Dengan menggunakan logika linier, narasi pribumi dan non pribumi dihubungkan dengan persoalan keyakinan. Menurut narasi ini, agama non pribumi sudah seharusnya dikurangi dalam rangka meredakan ketegangan sosial yang selama ini terjadi.

Tahun 2018, Ruhut Sitompul, pengacara ternama mengangkat isu anti Arab. Menurutnya, Arab sama sekali tidak memberi kontribusi apa pun bagi Indonesia. Sayangnya, isu anti Arab ini dilempar ketika Pemerintah tengah berusaha menarik investasi Arab di Indonesia.

Kabarnya, karena sentimen anti Arab yang dilempar Ruhut dan sebagian pegiat media sosial, elit-elit Arab batal menanam investasi jalan tol sepanjang Pulau Jawa. Hanya Sheikh Mohammed bin Zayed yang mau mengucurkan cuan untuk ruas jalan tol Cikunir-Karawang Barat (Japek Atas).

Pada tahun 2018, juga ditandai kemunculan sosok Habib Bahar bin Smith. Habib muda kelahiran Manado tampil di atas panggung membela Habib Rizieq yang didaulat sebagai gurunya.

Walaupun Habib Rizieq mempunyai Habib Hanief al-Attas menantu yang juga militan, pandangan publik lebih tertuju kepada Habib Bahar. Tampilnya Habib Bahar sebagai pembela utama Habib Rizieq, tampaknya sudah disiapkan jika Habib Rizieq tidak tampil di muka publik lagi.

Pada tahun ini, Habib Rizieq bersama keluarganya mengasingkan diri di Makkah. Habib Hanief dan Habib Bahar lebih sering tampil di hadapan publik menggantikan Habib Rizieq.

Tahun 2019, pada tahun ini konflik politik mengalami reifikasi (pengentalan). Publik terjebak ke dalam skisma politik yang ditandai dengan kemunculan istilah kadrun dan cebong. Bahkan beberapa akun facebook menyebut bahwa para kadrun adalah militan yang potensial menjadi teroris. Publik seperti melupakan perdebatan Azmat Khan dan Alawiyyun.

September 2019, istilah cebong dan kadrun resmi ditinggalkan setelah Prabowo Subianto bersedia masuk ke dalam Kabinet Kerja Jilid II, sebagai menteri pertahanan.

Tahun 2020, Indonesia memasuki masa pandemi Covid-19. Habib Bahar bin Smith menggunakan isu pandemi untuk melawan kekuasaan. Hingga akhirnya beliau ditangkap dan dipenjarakan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X