sering dimaknai sebagai jawaban manusia terhadap panggilan yang telah dimulai sejak perjanjian "Alastu bi Rabbikum" tersebut. Para sufi seperti Jalaluddin Rumi melihat seluruh perjalanan spiritual manusia sebagai usaha mengingat kembali kesaksian purba itu—kesaksian yang terlupakan oleh hiruk-pikuk dunia, tetapi kembali bergema di Arafah ketika jutaan manusia menjawab:
"Labbaik Allahumma Labbaik."
Seakan-akan talbiyah adalah gema dari jawaban pertama manusia:
"Balaa Syahidnaa"
"Benar, kami bersaksi."
Dan dialog Imam Ali Zainal Abidin dengan As-Syibli seolah menjadi tafsir praktis dari kerinduan itu. Ketika melempar jumrah, Imam bertanya:
“Apakah engkau benar-benar melempar hawa nafsumu?”
Ketika menyembelih kurban:
“Apakah engkau menyembelih kerakusan dan ego dalam dirimu?”
Ketika mencukur rambut:
“Apakah engkau membersihkan dirimu dari kesombongan sebagaimana rambut itu jatuh dari kepalamu?”
Haji, dalam pandangan Imam, bukan sekadar perjalanan tubuh menuju Makkah, tetapi perjalanan jiwa menuju transformasi jiwa.
Dan Imam Ali Zainal Abidin mengubah seluruh pandangan itu menjadi pertanyaan yang sangat sederhana namun menghancurkan:
“Apakah engkau benar-benar hadir dalam ibadahmu?”
Di sana manusia berdiri tanpa apa pun selain dirinya sendiri.
Tidak ada yang tersisa selain: kefanaan, tangisan, pengakuan,
dan harapan akan ampunan Tuhan.
Barangkali karena itu Ali Syari'ati menyebut haji terasa begitu dekat dengan kematian dalam makna modern "gladi resik menuju kematian" Ihram menyerupai kafan. Arafah menyerupai Padang Mahsyar. Talbiyah menyerupai jawaban atas panggilan akhir.
"Sekarang lepaskan pakaianmu. Tinggalkan semuanya di Miqat. Kenakan kafan yang terbuat dari kain putih sederhana. Engkau akan berpakaian seperti semua orang. ... Jadilah manusia yang menyadari kefanaannya. ... Tinggalkan seluruh identitasmu dan kembalilah menjadi satu Adam, sebagaimana pada akhirnya engkau akan menjadi satu mayat." Ali Syari'ati dalam bukunya Hajj (The Pilgrimage).