Dalam konteks seperti itu bila terjadi konflik bersenjata di LCS maka Selat Malaka yang merupakan pintu gerbang menuju Samudra Hindia akan mengalami kontingensi terutama bila negara-negara yang terlibat konflik menggunakan selat itu sebagai arena peperangan asimetris sebagaimana dilakukan Iran di Selat Hormuz.
Selain negara-negara klaiman, di LCS juga ada armada kapal-kapal perang AS yang melaksanakan pelayaran Freedom of Operation Navigations (FONOPs), karena menganggap perairan itu adalah perairan internasional. Akibatnya, sering terjadi ketegangan antara AS dengan China.
Potensi konflik juga terdapat di Selat Taiwan, karena China menganggap Republik Taiwan bukan negara berdaulat, tetapi bagian dari China. Kondisi itu terjadi setelah perang saudara tahun 1949 antara Partai Komunis China dengan Partai Koumintang berakhir dengan kalahnya Koumintang yang menyingkir ke Pulau Taiwan hingga sekarang.
Apabila China melancarkan operasi militer untuk merebut Taiwan, maka sebuah malapetaka besar akan terjadi, sebab AS tidak akan membiarkan invasi itu terjadi. AS memiliki Taiwan Relations Act yang disahkan Kongres AS. Aturan itu berisi AS akan membantu Taiwan bila negara itu diserang negara lain.
Bila itu terjadi, Selat Taiwan akan diblokade China. Lanjutannya, Selat Malaka bisa juga akan diblokade AS maupun China untuk mendapatkan keuntungan taktis dan strategis.
Selat Strategis sebagai Wahana Perang
Pada perang Iran-AS-Israel Februari-Maret lalu, terlihat bagaimana sebuah selat yang bernilai strategis dijadikan sebagai salah satu strategi untuk meraih keuntungan taktis dalam peperangan. Iran dengan penuh perhitungan menutup Selat Hormuz untuk memaksa AS melakukan gencatan senjata.
Perang AS-Iran-Israel merupakan perang asimetris generasi keempat yang dijalankan Iran. Selain menutup Selat Hormuz, Iran juga memainkan proksi Hizbullah, Hamas dan Houthi untuk bertempur di tiga front berbeda.
Pada sisi lain, Angkatan Bersenjata Iran (Artesh) bersama Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan banyak drone murah ke Israel maupun ke pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.
Strategi peperangan asimetris Iran tersebut berdampak pada kelangkaan minyak dunia akibat 20 persen pasokannya tertahan di Hormuz, sementara drone dan rudal Iran mampu menguras rudal-rudal AS-Israel yang berharga mahal.
Kondisi seperti itulah yang harus dihindari dan jangan sampai terjadi di Selat Malaka. Untuk itu perlu sebuah pemikiran strategis dari negara-negara di kawasan untuk menjaga Selat Malaka dan terhindar dari kontingensi konflik dengan mengedepankan diplomasi multilateral maupun bilateral untuk menghindarkan konflik bersenjata.
Jakarta, 22 April 2026.