Oleh; Mush'ab Muqoddas, Lc
Pimred Senayan Post
Sesaat setelah selesai diskusi dalam bedah buku Golkar; Sejarah yang Hilang, penulis menghampiri penulis buku, sejarawan dan mantan diplomat asal Australia Prof David Reeve. Penulis bertanya, ABG (ABRI, Birokrasi dan Golkar) memperkuat atau memperlemah Golkar ?
Prof David Reeve yang pertama kali datang ke Indonesia di tahun 1969 sebagai diplomat dan meneliti Golkar sejak tahun 1970, menjawab bahwa untuk kemenangan dan pembentukan struktur akan memperkuat Golkar. Tetapi akan memperlemah intelektual dan pemikiran dari ideologi karya kekaryaan Golkar itu sendiri.
Buku Golkar; Sejarah yang Hilang, merupakan penelitian disertasinya, ini menurut hemat penulis dapat disebut sebagai sejarah kelahiran dan perkembangan ideologi Golkar.
Prof David Reeve mengungkapkan bahwa gagasan asal muasal Golkar adalah anti-parpol khususnya partai politik ideologis, terlebih ideologi-ideologi asing yang membahayakan identitas Bangsa Indonesia, terutamanya komunisme.
Gagasan anti-parpol ini ternyata sudah ada sejak dekade 1920-an atau di awal-awal pergerakan kebangkitan nasional. Gagasan ini semakin berkembang pada dekade 1930-an yang saat itu seluruh dunia terjangkit depresi ekonomi sebagai dampak Perang Dunia I dan akan memasuki Perang Dunia II.
Pada tahun 1932, Bung Karno memiliki pandangan yang tajam. Peperangan dan persaingan antara Jerman yang dikuasai Nazi pimpinan Adolf Hitler dengan Aliansi Barat pimpinan Amerika Serikat, bukan peperangan ideologi kapitalisme-liberalisme melawan sosialisme-fasisme, akan tetapi pertempuran antara old-colonialism melawan new-colonialism. Keduanya memperebutkan dominasi pasar global dan persaingan dalam kolonialisme yang rasis.
Sementara itu, ideologi-ideologi yang berkembang dalam sekitaran 2 (dua) dekade tersebut tidak memberikan solusi dan justru menimbulkan friksi di tengah masyarakat yang majemuk seperti Bangsa Indonesia.
Penulis mengenal ideologi karya kekaryaan Partai Golkar di tahun 2008 saat itu ada ajakan dari seorang aktifis muda Partai Golkar untuk bergabung sebagai pengurus di Mesir. SK dengan nama penulis dan 2 (dua) teman lainnya ditandatangani oleh Allah Yarham Burhanuddin Napitupulu dan Iskandar Mandji. Kemudian dalam perhelatan Pilpres 2009, penulis juga menjadi sekretaris sekaligus juru kampanye Tim Pemenangan Jusuf Kalla - Wiranto.
Saat itu, penulis mencoba memahami ideologi Partai Golkar. Apakah liberal, sekuler, islamis, sosialis, atau komunis ? Ternyata tidak semua itu. Pertemuan dengan Prof David Reeve pada Senin 8 Desemebr 2025 itu menjadi jawaban dari pertanyaan lebih 15 tahun yang lalu.
Saat berbincang dengan Prof David Reeve, beliau menegaskan bahwa semangat anti-parpol di dalam Golkar memiliki akar yang kuat dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantoro dan Prof Supomo yang menekankan pentingnya identitas nasional yang berkepribadian sesuai dengan nilai-nilai asli budaya Bangsa Indonesia. Hanya Golkar yang secara tegas menyatakan karya-kekaryaan sebagai ideologi pergerakan, di mana kata karya berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti kerja nyata.