Jam’iyah Nadhlatul Ulama Bersikap, Zionisme Nahdliyyah dan Urgensi Rais Aam Mundur

photo author
Risma P., Senayan Post
- Rabu, 10 September 2025 | 09:45 WIB
KH Imam Jazuli Lc., MA
KH Imam Jazuli Lc., MA

Solusi jangka panjang yang mungkin bisa ditempuh adalah pertama dengan memutus mata rantai pengaruh zionisme ke dalam tubuh NU. Hal itu bisa dilakukan dengan cara menutup pintu kerjasama PBNU dengan CSCV sampai batas waktu yang tidak ditentukan. CSCV bagai parasit di tubuh NU. Lebih-lebih elite CSCV, Yaqut Cholil Qoumas, masih berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Baca Juga: Di Balik Sosok Penyelamat Bendera Pusaka, Namanya Terlupakan dan Izin Makamnya Terabaikan

Langkah selanjutnya adalah KH. Yahya Cholil Staquf sebagai representasi CSCV dan zionisme maupun KH. Rais Aam sebagai simbol politik oportunis harus merelahkan tahta kepemimpinannya. Selama dua figur besar ini masih memiliki simpul kuasa, citra NU sulit dipulihkan. Potensi lain masuknya zionisme di tubuh NU sulit dibendung.

Mengapa Rais Aam Harus Mundur

Satu periode pasca Muktamar NU di Lampung, warga Nahdliyyin terlalu lelah menjaga nama baik organisasi, hanya karena manuver-manuver politik para pengurusnya yang liar dan tak terkendali. Terlalu banyak, mulai dari masalah konsesi tambang, pemecatan sepihak terhadap pengurus yang tidak sehaluan, hingga pengaruh zionisme.

Baca Juga: 12 Ucapan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam Bahasa Inggris

Semua berakar dari satu penyakit yang sama, yaitu oportunisme politik, pragmatis, transaksional. Nilai-nilai ideal menjadi barang langka yang sulit ditemukan lagi di lingkungan NU. Mungkin itu biasa-biasa saja bagi pengurus yang dekat dengan kekuasaan, tetapi menjadi problem fatal bagi warga NU yang masih ideal dengan nilai-nilai tradisional NU, Khitthah Jam’iyah, dan jejak perjuangan muassis.

Rais Aam terkesan membiarkan terhadap polarisasi yang tercipta di akar rumput. Tidak ada contoh kepemimpinan yang berhasil menyatukan warga Nahdliyyin yang semakin terbelah. Juga tidak ada langkah konkrit untuk menjaga apa yang disebut Ukhuwah Nahdliyyih yang semakin keropos dari waktu ke waktu.

Singkat kata Rais Aam, KH. Miftachul Akhyar, belum memiliki kapasitas leadership yang ideal. Padahal, jamaah NU semakin besar dari waktu ke waktu, tentu dengan segala macam aspirasi dan golongan. Tidak semua warga cocok dengan pilihan politik transaksional, pragmatis, dan politis. Juga tidak semua warga suka dengan kondisi perpecahan di akar rumput yang menajam.

Baca Juga: 12 Inspirasi Ucapan Maulid Nabi Muhammad SAW, Cocok untuk Status Media Sosial

Tentu warga tidak bisa menerima pembiaran semacam ini berlanjut hingga datang masa Muktamar berikutnya. Bukan mustahil juga KH. Yahya Cholil Staquf dan KH. Miftachul Akhyar akan kembali berkuasa di Muktamar selanjutnya. Mengingat betapa intimnya mereka dengan kekuasaan, termasuk zionisme.

Mengundurkan diri bagi Rais Aam memang pilihan paling ideal. Tentu ada harga yang harus dibayar, yaitu: tidak ada sejarah NU dimana Rais Aam mengundurkan diri. Tetapi, jika tidak mengundurkan diri, korban juga lebih besar. Tidak ada sejarah NU dimana pemimpin-pemimpinya menjadi corong kepentingan zionisme.

Dalam situasi ini, kita perlu kembali ke kaidah fikih “idza ijtama’a mafsadatani fa ‘alaikum bi akhaffihima.” Jika ada dua pilihan buruk, maka pilihkan yang paling ringan mudharatnya. Oleh karenanya, dari pada memiliki pemimpin yang menjadi kaki tangan zionis, lebih baik memiliki pemimpin yang mengundurkan diri. Wallahu a’lam bis shawab. (*)

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc. MA

Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri;  Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. Artikel ini pernah dimuat di DisWay Senin 8 September 2025.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Israeli Shiites and Iranian Jews

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Risma P.

Sumber: Disway

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB

Muslihat AS Menyerang Iran

Selasa, 14 April 2026 | 17:11 WIB
X