Intelijen dan Nurani Global: Saat Kebenaran Menjadi Senjata Terakhir

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Rabu, 20 Agustus 2025 | 16:47 WIB

 

Oleh Redaksi The Indonesian National Herald

Yogyakarta menjadi saksi lahirnya sebuah tonggak penting bagi dunia intelijen global. Pada 18 Agustus 2025, Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi tempat dideklarasikannya Manifesto Internasional (Terbuka) Filsafat Intelijen — sebuah seruan moral dan intelektual yang berani mengubah wajah intelijen dari sekadar alat kekuasaan menjadi pilar kemanusiaan dan keberlanjutan.

 

Intelijen di Persimpangan Jalan

Dunia kini berada dalam pusaran disinformasi, proxy war, dan simulakra—rekayasa realitas yang mengaburkan kebenaran. Intelijen, yang seharusnya berfungsi sebagai pancaindra bangsa, justru kerap tergelincir menjadi instrumen manipulasi. Manifesto ini dengan tegas menolak praktik intelijen yang menyesatkan, karena pada akhirnya, kebohongan intelijen bukan hanya pelanggaran teknis, melainkan pengkhianatan moral terhadap umat manusia.

Inilah kritik paling mendasar: bahwa intelijen harus dikembalikan kepada hakikatnya—melindungi kebenaran, menegakkan keadilan, dan memastikan kelangsungan hidup manusia serta lingkungannya.

 

Lima Pilar Manifesto

Manifesto tersebut menekankan lima pokok utama: paradigma intelijen humanis; etika universal sebagai landasan; penolakan terhadap praktik tidak jujur; pemajuan filsafat intelijen sebagai disiplin akademik; serta komitmen kolektif untuk membangun tata kelola intelijen yang akuntabel dan berpihak pada kebenaran.

Lima pilar ini, bila dijalankan konsisten, berpotensi menjadi antitesis terhadap tren global yang menormalisasi propaganda, perang informasi, dan politik kebohongan.

 

Akademisi sebagai Benteng Moral

Yang menarik, deklarasi ini tidak datang dari ruang-ruang gelap kekuasaan, melainkan dari dunia akademik. Nama-nama seperti Prof. AM Hendropriyono, Prof. Mustari Mustafa, Prof. Lasiyo, hingga Prof. Amarulla Octavian, bersama dukungan tokoh internasional seperti Prof. Bilveer Singh (NUS), menunjukkan bahwa diskursus intelijen kini mulai memasuki ranah filosofis dan ilmiah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB

Muslihat AS Menyerang Iran

Selasa, 14 April 2026 | 17:11 WIB
X