Alhamdulillah Bukan Seperti Arab Spring

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Kamis, 4 September 2025 | 03:29 WIB

 

Mush’ab Muqoddas, Lc

Pengamat Terorisme di Timur Tengah

Pemimpin Redaksi Senayan Post

 

Aksi demonstrasi yang dimulai pada 25 Agustus 2025 berlangsung lebih dari sepekan, melebar ke berbagai daerah hingga menjadi aksi kerusuhan dan penjarahan. Semakin menimbulkan korban jiwa, aksi kerusuhan dan penjarahan lanjutan semakin parah.

Seolah ada suatu rumusan tersendiri dalam berbagai aksi massa, rasa simpati kepada korban jiwa dijadikan dalih pembenaran untuk melakukan aksi kerusuhan yang juga akan menimbulkan korban jiwa. Setelah hilang nyawa seorang pejuang rupiah driver ojol, pemuda bernama Affan Kurniawan, seorang mahasiswa di Yogyakarta kelihangan nyawanya. Tidak hanya itu, di Makassar Sulawesi Selatan, setidaknya 3 (tiga) nyawa yang tidak berdosa juga ikut menjadi korban. Bahkan, kamar marbot masjid di komplek DPRD Makassar juga dijarah.

Alhamdulillah, gotong royong telah menjadi karakter utama Bangsa Indonesia. Kita dapat melihat di berbagai daerah, justru masyarakat menghalau para perusuh, seperti di sekitar Pasar Pondok Gede Bekasi Jawa Barat, sebelah timur Jakarta.

Berbeda dengan tragedi Mohamed Bouaziz di Tunisia yang meninggal di rumah sakit akibat membakar dirinya sendiri karena gerobak buahnya disita oleh aparat kepolisian Tunisia, Presiden Prabowo Subianto justru datang ke rumah Almarhum Affan Kurniawan secara langsung menyampaikan belasungkawa dan menjamin kelangsungan hidup keluarganya bahkan menyekolahkan adik almarhum. Mohamed Bouazizi, seorang sarjana ilmu computer, adalah gambaran rusaknya tata sosial-politik di Tunisia, bahkan Negara Arab pada umumnya, yang sangat kental dengan korupsi berpondasikan nepotisme yang akut.

Presiden Prabowo Subianto segera melakukan konsoldasi elemen-elemen sosial-politik. Sejumlah petinggi dari ormas-ormas Islam diajak berdiskusi membahas perkembangan yang terjadi. Selanjutnya semua ketua umum partai politik dan kepala lembaga tinggi negara diundang ke Istana Kepresidenan mendiskusikan solusi yang tepat. Selanjutnya, tokoh-tokoh lintas agama, diikuti oleh organisasi-organisasi kepemudaan lintas agama.

Semuanya sekapat bahwa rakyat harus solid bersama Presiden Prabowo Subianto menyelesaikan krisis dan membangun negeri, serta mewujudkan Bangsa Indonesia yang maju, adil dan makmur. Tidak hanya itu, setelah membesuk para korban dari aparat kepolisian yang terluka, didampingi Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Presiden Prabowo Subianto menegaskan akan memberantas para mafia yang mengganggu cita-cita Bangsa Indonesia untuk maju, adil dan makmur.

Setelah melihat kondisi dalam negeri yang stabil, Presiden Prabowo Subianto bertolak ke China menghadiri peringatan Hari Kemenangan China atas fasisme Jepang di akhir Perang Dunia II. Waktu yang kurang dari 24 jam tersebut dimanfaatkan untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Tidak hanya itu, dalam sesi foto, Presiden Prabowo Subianto berada di barisan depan bersama Presiden China Xi Jinping, dan tepat di samping kanan Presiden Rusia Vladimir Putin. Memberikan pesan bahwa keduanya menyampaikan rasa simpati atas kerusuhan yang terjadi di Indonesia, serta dukungan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk menyelesaikan krisis yang terjadi.

Pesan dukungan keduanya, merupakan jawaban dari tekanan yang dihadapi Presiden Prabowo Subianto dari pihak luar, terutamanya kalangan kapitalis-liberal. Mantan Kepala Badan Intelijen Negara Jenderal TNI (Purn) Prof Dr AM Hendropriyono dengan tegas menyatakan bahwa aksi demonstrasi yang menjadi kerusuhan di berbagai daerah ini didalangi oleh sejumlah taipan di antaranya George Soros, konglomerat Amerika berdarah Yahudi, melalui NGO-NGO seperti NED dan Open Society Foundation, dengan sejumlah LSM bahkan yang bergerak di sektor lingkungan hidup, tetapi ternyata juga melakukan pembinaan basis massa dengan berbagai isu dari HAM hingga kerusakan lingkungan.

Pandangan yang tajam ini diperkuat oleh sejumlah analis geopolitik dunia seperti Angelo Guiliano dan Jeff J Brown, yang menganggap Indonesia sudah terlalu dekat dengan poros Rusia dan China dalam BRICS, demi mengimbangi tekanan Amerika Serikat yang saat ini kembali dipimpin oleh Presiden Donald Trump dengan kebijakan mengerikannya yaitu tarif resiprokal, untuk meningkatkan keuntungan dari sektor pajak bea cukai produk impor. Kebijakan tarif resiprokal yang dianggap semena-mena ini justru mengharuskan Indonesia yang juga mengalami krisis sebagai dampak dari pandemi covid-19, harus mencari mitra-mitra yang lebih fair dalam sektor perdagangan internasional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB

Muslihat AS Menyerang Iran

Selasa, 14 April 2026 | 17:11 WIB
X