Pak Harto; Padvinder Hizbul Wathan Muhammadiyah, Presiden Indonesia

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Minggu, 8 Juni 2025 | 15:41 WIB

 

Mush’ab Muqoddas, Lc

Pengajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta 2019-2021

 

“Saya ini bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia” (Suharto, 1995)

 

Padvinver merupakan kosakata Bahasa Belanda, yang berarti gerakan kepanduan kepemudaan. Organisasi komunitas semi-militer ini dibentuk saat Perang Dunia I (1914-1919), tujuannya untuk mendukung pihak-pihak yang berperang.

Pada tahun tahun 1918, KH Ahmad Dahlan mengisi pengajian di kawasan sekitar Pura Mangkunegara. Saat selesai pengajian, mendapati sejumlah remaja mengikuti pelatihan semi-militer tanpa senjata, hanya menggunakan tongkat. Mereka belajar baris-berbaris, semaphore, morse, tali-temali dan yel-yel penyemangat.

KH Ahmad Dahlan segera pulang ke Yogyakarta. Mengadakan rapat dengan murid-muridnya. Hasilnya, didirikan organisasi kepanduan untuk remaja dan menjadi ekstra-kurikulum di sekolah-sekolah Muhammadiyah.

Namanya Hizbul Wathan. Terisnpirasi dengan nama Hizbul Wathan yang didirikan oleh Mustafa Kamal, tokoh pergerakan asal Mesir, yang menyiapkan kemerdekaan Mesir dari cengkraman Inggris. Hizbul Wathan Mesir didukung oleh Khalifah Abdul Hamid II, penguasa Turki Utsmani.

Berbeda dengan Hizbul Wathan di Mesir yang merupakan partai politik, Hizbul Wathan Muhammadiyah merupakan gerakan kepanduan keremajaan. Anggotanya adalah remaja dan anak-anak yang masih mengenyam sekolah dasar dan menengah. Salah satunya adalah Suharto.

KH Hisyam selalu menyemangati para siswa saat belajar disiplin di Kepanduan Hizbul Wathan. Kalimatnya ini selalu dikenang, sebagai semangat.

“Nanti tongkat kalian akan berubah menjadi senapan.”

 

Saat remaja, Suharto Suharto bersekolah di SMP Muhammadiyah Yogyakarta. Pendidikan kepanduan yang didapat dari Hizbul Wathan, menjadi bekal bagi Suharto untuk masuk ke sekolah KNIL (Tentara Hindia Belanda dari Bumiputera), dan lulus sebagai lulusan terbaik. Saat kependudukan Jepang, Suharto mendaftar sebagai Keibuho Polisi Jepang, dan kemudian bergabung dengan Tentara PETA (Pembela Tanah Air), yang banyak diisi oleh kalangan santri dan berlatarbelakang pendidikan Muhammadiyah, di antaranya Sudirman.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X