Bung Karno; Guru Sekolah Muhammadiyah, Presiden Indonesia

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Jumat, 6 Juni 2025 | 23:35 WIB

 

Mush’ab Muqoddas, Lc

Pengajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta 2019-2021

 

“Sekali Muhammadiyah, Tetap Muhammadiyah !” (Soekarno, 1962)

 

Siapa yang tidak kenal dengan Bung Karno ? Soekarno tidak hanya menggetarkan Indonesia, akan tetapi juga meggetarkan dunia internasional. Gagasan New World Order yang lebih berkeadilan, disampaikannya dalam salah satu Sidang Umum Persyarikatan Bangsa Bangsa, telah mendorong perubahan nyata dalam peta geopolitik dunia yang hanya bipolar, Barat (Amerika Serikat dan Eropa Barat) dan Uni Soviet.

Penggagas ideologi marhaenisme ini, merupakan proklamator kemerdekaan Bangsa Indonesia, dan merupakan presiden Republik Indonesia yang pertama. Saat ini, marhaenisme dilestarikan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, yang dipimpin oleh salah satu putrinya, Megawati Seokarnoputri, presiden kelima Republik Indonesia.

Perkenalan Bung Karno dengan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah sejak masa remajanya ketika menjadi ‘anak kost’ di kediaman Hadji Oemar Sahid Tjokroaminoto di Surabaya. Kediamannya menjadi salah satu panjer pergerakan nasional, sebagai cikal bakal kemerdekaan Indonesia. Di sini, para intelektual disemai dan berkembang menjadi penentu arah kemerdekaan Indonesia.

Sebagai pejuang pemikiran, Bung Karno kerap diasingkan oleh Belanda. Baik itu di Ende atau di Bengkulu. Walaupun berada dalam kawasan yang mayoritas Umat Kristiani, Bung Karno dapat diterima. Bahkan di sana, mulai terinspirasi falsafah pondasi berbangsa dan bernegara, Pancasila.

Landasan welas asih yang menjadi pondasi moderasi dan modernisasi yang ditanamkan KH Ahmad Dahlan kepada kader-kader Muhammadiyah, menancap dalam akal dan sanubari Bung Karno, sebagai bekal dalam berinteraksi dengan umat beragama lain.

Kemunculan Muhammadiyah bukan menjadi rivalitas dari gerakan misi zending kristenisasi di Indonesia, akan tetapi berkolaborasi dalam kerja-kerja kemanusiaan. Tercatat, beberapa dokter baik berkebangsaan Belanda atau asiang dan Bumiputera yang beragama Kristen, bekerja tanpa gaji di RS PKU Muhammadiyah, baik di Yogyakarta atau di Surabaya. Mereka terdorong karena rasa welas asih KH Ahmad Dahlan.

Dengan semangat ini, Bung Karno bahu membahu dengan Umat Kristiani di Ende dalam menyadarkan akan pentingnya pendidikan dan semangat belajar, sebagai modal bagi kemerdekaan Bangsa Indonesia. Bung Karno dan para pastur bahu-membahu memberikan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang modern bagi masyarakat Ende.

Ketika Bung Karno dibuang oleh Belanda ke Bengkulu, Bung Karno segera bergabung dengan Muhammadiyah Cabang Bengkulu yang diketuai oleh Haji Hasan Din, ayah dari Fatmawati, yang nantinya akan dinikahi oleh Bung Karno. Dari pernikahan ini, Bung Karno memiliki anak antara lain Guntur, Megawati, Rahmawati, Sukmawati dan Guruh.

Saat menjahit Sang Saka Merah Putih yang digunakan untuk upacara pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Fatmawati menyenandungkan lagu Nasyiahku Sayang. Fatmawatu menceritakan kisahnya itu di tahun 1946 saat didatangi sejumlah Pengurus Pimpinan Pusat Aisyiyah, yaitu Siti Aisyah Hilal, Siti Haniyah Mawardi dan Siti Badilah Zuber.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB

Muslihat AS Menyerang Iran

Selasa, 14 April 2026 | 17:11 WIB
X