EKSKLUSIF: Prof Abdul Munir Mulkhan, Moderasi dan Modernitas Muhammadiyah Berpondasi Welas Asih

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Sabtu, 3 Mei 2025 | 09:42 WIB

 

Redaksi Senayan Post pada Jumat 25 April 2025 berkesempatan mewawancarai salah satu pinisepuh Muhammadiyah, Guru Besar Emeritus Universitas Muhamnadiyah Surakarta Prof Dr Abdul Munir Mulkhan, di kediaman beliau di kawasan Kotagedhe Yogyakarta terkait dengan sikap moderat dan sifat modernitas dalam Muhammadiyah. Berikut wawancaranya:

 

Seperti apa praktek moderasi di dalam Muhammadiyah ?

Implementasi atau praktek moderasi di Muhammadiyah mengalalami berbagai perubahan untuk menyesuaikan perkembangan zaman. Pada masa Kyai Haji Ahmad Dahlan, pergerakan Muhammadiyah sangat inklusif sehingga mendapatkan simpati dari banyak pihak. Kyai Dahlan dalam pergerakan dakwahnya menjunjung tinggi moderasi dan modernisasi yang didasari oleh rasa welas asih untuk memuliakan kemanusiaan. Salah satu contohnya adalah pembangunan Rumah Sakit Pembinaan Kesejahteraan Umum (PKU) baik yang berada di Yogyakarta atau di Surabaya. Saat itu tidak sedikit yang mengkritik pembangunan rumah sakit, akan tetapi semangat modernisasi Kyai Dahlan mendorong kader-kader Muhammadiyah untuk terus bergerak sampai rumahs akit terbangun dan memberikan pelayanan kesehatan modern bagi masyarakat khususnya fakir miskin. Sifat tulus dan sikap inklusif Kyai Dahlan berhasil menarik simpati dari sejumlah dokter yang beragama Nasrasi untuk menjadi dokter dan rela tidak digaji. Begitu juga dr. Soetomo yang bersedia menjadi penasehat bidang kesehatan dan pengawas Rumah Sakit Muhammadiyah di Surabaya. Begitu juga dengan guru-guru mata Pelajaran ilmu-ilmu umum, tidak sedikit yang bukan orang muslim atau . Hasilnya adalah mulai munculnya rasa kesadaran untuk merdeka.

Kemudian, pada tahhun 1927 hingga 1930-an Muhammadiyah terlibat penting dalam menggagas pondasi politik kenegaraan untuk Indonesia yang akan merdeka. Tidak sedikit kader-kader Muhammadiyah yang terlibat dalam pergerakan politik negara termasuk dalam berbagai pergerakan-pergerakan politik sehingga kemudian Muhammadiyah terlibat membidani Majelis A’la Syuro Islami (Masyumi). Aktifitas kader-kader Muhammadiyah banyak yang dalam dunia politik ini mengakibatkan terjadinya kejumudan dalam bidang keilmuan karena pembahasan hanya seputar politik dan fikih, bukan pada nilai-nilai dan perkembangan pemikiran.

Selanjutnya pada era Orde Baru, Muhammadiyah bersebrangan tanpa konvrontatif penuh ketegangan. Saat pemerintahan Orde Baru melakukan pembaharuan, sehingga membutuhkan banyak Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari kalangan santri yang modernis, maka diambil lah kader-kader Muhammadiyah. Pada dekade 1970-an, Orde Baru menggunakan PNS sebagai salah satu alat politik kekuasaan. Sikap Muhammadiyah tidak pernah berubah, selalu didasari pada sifat moderat dan modernis, demi kemaslahatan Umat Islam secara keseluruhan. Salah satu hasilnya, di dekade 1980-an kader-kader Nahdlatul Ulama (NU) kemudian mulai diterima sebagai PNS termasuk mulai berdiri kampus-kampus perguruan tinggi. Muhammadiyah tidak bekerja untuk dirinya sendiri tetapi untuk semua Umat Islam.

Watak moderasi dan modernitas Muhammadiyah tidak berubah. Termasuk sejak 2010 saat semakin terlihat banyaknya gaya salafisme di dalam tubuh Muhammadiyah termasuk amal usaha terkhusus di bidang pendidikan, para pimpinan Muhammadiyah kembali mengedepankan pendekatan yang welas asih, bukan tekanan strukturisltik. Para pimpinan Muhammadiyah melakukan pembinaan yang baik sehingga ideologi Muhammadiyah tetap terjaga. Begitu juga dengan karakter moderat dan modern yang dilandasi welas asih, masih terpelihara hingga saat ini.

 

Apa kaitan moderasi dan modernitas dalam pandangan Muhammadiyah

Modernisasi artinya membuat membuat orang untuk berfikir rasional. Rasionalisasi akan melunturkan tradisi-tradisi yang tidak rasional. Semakin banyak warga masyarakat yang rasional maka akan lebih dekat kepada Muhammadiyah. Tujuan Muhammadiyah sendiri tidak lain adalah untuk memuliakan kemanusiaan. Ini dapat kita cermati melalui dokumen-dokumen lama, Muhammadiyah tidak akan lepas dari sikap moderat dan modernitas. Seperti pembangunan sekolah dengan gaya modern serta fasilitas kesejahteraan seperti rumah sakit. Kesemuanya ini berlandaskan rasa welas asih, tidak hanya semangat puritanisme yang radikal. Intoleransi dan radikalisme menyasar orang dewasa, juga anak-anak dan milenial hanya bisa diredam lewat humanisasi syariah melalui ijtihad ulangdapat dikikis dengan memperhatikan kurikulum dan materi dakwah yang multi perspektif dan mampu mencerahkan umat untuk memahami mana hal yang boleh berubah dan mana yang tidak boleh berubah di dalam Islam. Termasuk menampilkan kembali bahwa ajaran Islam yang sejati adalah Islam yang penuh rahmat dan kasih sayang kepada seluruh makhluk, karena berislam itu adalah bersosial dan menebarkan perdamaian. Muhammadiyah tidak bekerja untuk mengislamkan atau me-muhammadiyah-kan, akan tetapi memuliakan kemanusiaan sebagai syarat mendapatkan hidayat. Adapun perkara hidayah sendiri, adalah hanya kehendak Allah SWT.

Ada disertasi Alwi Shihab yang menuliskan bahwa latar belakang pendirian Muhammadiyah melawan kristenisasi, saya menentang pendapat itu. Itu hanya penafsirannya saja.  Muhammadiyah bisa mendirikan rumah sakit karena tulus berdialog dengan Umat Kristiani. Bahkan, Kyai Dahlan bersahabat dengan Pastor Muntilan. Ketulusan ini mendorong sejumlah dokter beragama nasrani untuk bekerja di rumah sakit PKU Muhammadiyah tanpa digaji. Jika Muhammadiyah merupakan gerakan perlawanan kristenisasi, maka tidak mungkin dokter-dokter non-muslim untuk bekerja di amal usaha Muhammadiyah. Pada AD/ART yang lama, anggota Muhammadiyah terdiri dari 3 (tiga) kategori yaitu anggota biasa yang harus seorang muslim yang telah mendaftar, kemudian anggota istimewa dan anggota donator yang tidak mensyaratkan beragama Islam atau telah mandaftar, akan tetapi memiliki peran yang mendukung tujuan Muhammadiyah yaitu memuliakan kemanusiaan. Filofosi pergerakan Muhammadiyah sejak dahulu adalah berhadapan dengan pemerintah tidak konfrontatif sehingga berhasil meyakinkan Pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan musholla di berbagai fasilitas umum seperti pasar, terminal dan stasiun.

 

Seperti apa sikap Muhammadiyah dalam menghadapi kelompok-kelompok radikal ?

Dialog kembali kepada ajaran Islam diwadahi oleh Majelis Tarjih. Salafi lebih banyak melakukan silent operation di belakang panggung jadi mereka sulit ditemukan. Muhammadiyah tidak memecat, tidak menggunakan kekuasaan tapi welas asih dan memanusiakan. Muhammadiyah melakukan pembinaan dengan dialog. Majelis Tarjih dibentuk untuk mendamaikan perbedaan di tengah masyarakat dan Muhammadiyah menempatkan diri sebagai saudara tua Umat Islam di Indonesia dan Dunia. Menjembatani gap perbedaan dalam pembahasan dan penafsiran sumber ajaran Agam Islam yaitu Al Qur’an dan As Sunnah, tidak langsung menyerang tradisi tapi mengambil jalan moderasi mencari sumbernya. Muhammadiyah pada Kongres Umat Islam di Cirebon 1931 berhasil merumuskan gagasan bahwa setiap muslim berhak mempelajari agama, sehingga sejak saat itu dimulai penerjemahan berbagai kitab-kitab dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu sehingga nilai-nilai ajaran Islam dapat dipahami secara luas. Muhammadiyah juga menggerakkan mubaligh keliling dalam kajian keislaman di tempat-tempat terbuka seperti di musholla yang berada di pasar, terminal dan stasiun. Seorang muslim memiliki 2 (dua) sifat utama yaitu sebagai guru dan sebagai murid.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB

Muslihat AS Menyerang Iran

Selasa, 14 April 2026 | 17:11 WIB
X