Menariknya, Prof Nassruddin Umar duduk bersila pas di samping kanan Prof Ali Jum'ah. Seperti seorang santri mengikuti kajian gurunya.
Kemudian kami dipersilahkan masuk ke kediaman Prof Ali Jum'ah yang berada di bagian timur masjid. Ternyata banyak tamu yang datang baik dari Mesir bahkan dari berbagai negara seperti Singapura yang ingin menjadwalkan kedatangan Prof Ali Jum'ah.
Sembari menunggu kami dipersilahkan untuk menikmati salah satu pojok ruangan yang disebut Al Hujrah An Nabawiyah dipandu Dr Amr Al Wardani. Pojok ruangan ini terdapat marmer dari Masjid Al Aqsha hadiah dari Otoritas Palestina, serta kunci Ka'bah dan kiswah penutup makam Nabi Muhammad SAW hadiah dari Kerajaan Arab Saudi.
Ternyata rombongan kami sengaja diterima terakhir agar waktu berbincang lebih panjang. Hal ini karena Dr Amr Al Wardani menyampaikan kepada Prof Ali Jum'ah bahwa rombongan kami ingin membahas penanggulangan terorisme.
Pesan penting Prof Ali Jum'ah adalah jangan sampai negara kalah dengan terorisme apapun bentuknya. Prof Ali Jum'ah juga menekankan pentingnya pembaharuan dialektika keagamaan untuk melindungi masyarakat dari propaganda agitatif dari kelompok-kelompok radikal yang salah memahami ayat-ayat suci Al Qur'an dan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW, akibat tidak mendalami ilmu-ilmu keislaman.
Prof Nassruddin Umar yang berada di samping Prof Ali Jum'ah duduk menunduk, bentuk ketawadluan seorang santri kepada gurunya.
Sebagai kenang-kenangan kami dihadiahi tasbih, ada yang mengambil tasbih dari tulang unta, ada juga yang mengambil dari kayu abanus dari Afrika. Sudah jamak diketahui, hadiah tasbih adalah tanda telah bertemu dengan Prof Ali Jum'ah.
Dari 6th October City kami mampir sebentar ke restoran Abou Shaqra di distrik Mohandeseen Giza. Kemudian kami bergerak ziarah ke Imam Asy Syafii.
Tampak Prof Nasaruddin Umar begitu khusyu' saat ziarah. Seolah ingin menyampaikan curahan hati, beban pikiran dan keluh kesahnya.
Selepas dari ziarah Imam Asy Syafii kami bergerak sebentar ke Baruga Sulawesi, sekretariat Kerukunan Keluarga Sulawesi yang menghimpun mahasiswa Indonesia asal Sulawesi dan provinsi-provinsi Indonesia Timur lainnya. Flat ini merupakan hadiah dari Bapak Jusuf Kalla saat menjabat Wakil Presiden RI.
Prof Nasaruddin Umar memberikan pesan kepada para mahasiswa agar bersungguh-sungguh belajar dan menggali semakin dalam ilmu-ilmu keislaman dari para ulama Al Azhar.
Sebelum kembali, rombongan menyempatkan diri sowan ke Syaikh Shafwat Al Qadhi yang merupakan salah satu tokoh di Tarekat Dasuqiyah Muhammadiyah, meminta doa untuk keselamatan Indonesia. Pesan beliau sama, negara jangan kalah dengan terorisme.
Bahkan kami mendapat istilah baru, mengalahkan teroris harus dengan meneror para teroris. Tentunya dengan hukum yang tegas serta persenjataan yang paling kuat dan perangkat yang paling modern.
Perjalanan ini serasa bukan perjalanan dinas, tetapi perjalanan religius. Sebagai pendamping, penulis merasakan ada asupan spiritual tambahan yang luar biasa dan sangat berkesan.
Beberapa hari lalu, ada fitnah yang keji atas Prof Nasaruddin Umar. Fitnah itu justru muncul di bulan yang suci ini. Fitnah ini tidak sesuai dengan karakter keulamaan Prof Nasaruddin Umar yang terus disemai dan dipupuk dengan asupan-asupan spiritual yang menyejukkan, bahkan semakin mencerdaskan.