Idrus Marham; Sang Maestro dan Ideolog Politik Golkar

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Jumat, 7 Maret 2025 | 15:50 WIB
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham

Rikal Dikri Muthahhari

Kader Muda Nahdlatul Ulama

 

Nyaris jarang ditemukan di abad supra modern ini, abad yang menggambarkan kecanggihan teknologi dan artificial intelligence dengan kekuatan hyper-connectednya, ada orang bicara tentang ideologi dan masa depan arah bangsa.

Apakah masih relevan "ideologi bersama" di tengah perkembangan manusia dari humanisme konvensional menuju humanisme modern/transhumanisme yang mana diwacanakan sebagai evolusi manusia modern yakni ketika entitas manusia bergerser dari entitas biologis menjadi entitas cyborg atau makhluk digital. Lagi-lagi apakah penting ideologi?

Secara politik, ekonomi, sosial, dan budaya perkembangan teknologi ini menggeser banyak peran manusia dan menciptakan tantangan baru dalam ketimpangan sosial, ini sangat bertentangan dengan Pancasila, tidak ada keadilan di dalamnya. Lalu apa yang kita harapkan dari abad supra modern ini.

Menjawab pertanyaan yang sulit dan kompleks ini, saya tertarik dengan gerakan kajian ideologi yang dibentuk oleh Idrus Marham, maestro politisi Golkar kawakan, yang berani mengambil posisi sebagai ideolog politik sebuah partai yang tak pernah tenggelam ditelan zaman, yaitu Golkar, it is very rare.

Pengajian rutin ideologi sesi pertama, Kamis, 06 Maret 2025 dibuka dengan sebuah pengantar yang cukup menyegarkan, ia mengutip kalam Tuhan, wa tawaashau bil haqqi wa tawashau bish-shabri, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran, selama berkiprah di partai Beringin tersebut, Idrus seringkali diterpa badai politik, terakhir badai itu memghendaki dirinya untuk dihabisi melalui skenario skandal proyek PLTU Riau-1 yang mana ia sama sekali tidak menikmati, bahkan menerima sekalipun dari gratifikasi itu, tidak pernah. Itu murni skenario politik! Bisa kita buktikan dalam perjalanan kasusnya.

Dia menyadari, bahwa dalam memperjuangkan kebenaran perlu adanya kesabaran pada titik inilah sosok Maestro itu memahami makna Marham yang sesungguhnya, dalam ayat lain Tuhan berbicara wa tawashau bish-shabri watawashau bil-marhamah, orang-orang beriman itu senantiasa berpesan dalam kesabaran dan saling berpesan dalam kasih-sayang. Artinya ada pesan Tuhan dan hamba-hambanya yang masih menaungi dia yakni pesan kasih-sayang, sehingga sampai saat ini dia masih eksis dan mengisi ruang-ruang diskusi, forum-forum intelektual, hadir sebagai ideolog di tengah krisis identitas partai Golkar.

Seorang sejarawan berkebangsaan Australia, David Reeve banyak mencatat sejarah Golkar, dalam bukunya "GOLKAR: Sejarah yang Hilang, Akar Pemikiran dan Dinamika", Reeve merekam bahwa ada simpul yang hilang dalam perjalanan Golkar, meskipun Reeve juga memuji Golkar sebagai Partai dengan mesin politik paling canggih. Apa saja simpul yang hilang itu?

Pada saat jatuhnya orde baru 1998, rezim Soeharto jatuh, tapi Golkar sama sekali tidak ikut tersapu badai, ia malah menjadi kekuatan politik utama pada pemilu pasca reformasi, ini adalah era baru Golkar, era di mana gagasan asli berdirinya Golkar kalah dengan gagasan barunya dengan semangat kepartaiannya, padahal aslinya anti-partai. Kemudian, bukan hanya itu saja, ada nilai ideologi yang tergerus dari Golkar, ideologi yang seharusnya didasari oleh etika kekeluargaan, kegotong-royongan, dan kekaryaan, ini lenyap begitu saja, karena masuknya faksi konglomerat ke dalam, sehingga politik yang ada, semuanya bersifat transaksional, tidak berdasar pada ideologi, melainkan ideo-logistick.

Rasanya memang sulit untuk saat ini mengembalikan Golkar seperti aslinya, yang dikatakan Reeve sebagai buah pemikiran dari Soekarno, Soepomo dan Ki Hajar Dewantara pada priode 40-an sampai 50-an. Jika kita tarik ke alam pikir para founders ini, Golkar bukanlah Partai, ia adalah Golongan Fungsionil, di sinilah Bung Karno di era itu mengubur partai-partai dan memunculkan Golkar ke panggung politik, meskipun pada akhirnya Soekarno tumbang dengan apa yang ia bangun.

Kendati demikian, di era supra modern dengan sistem multi partai ini sangatlah musykil untuk mengembalikan ke sistem itu, paling tidak Idrus Marham sudah berusaha menjaga dan melestarikan ideologi Golkar sebagai sebuah identitas yang orisinil, ideologi dengan kekayaan gagasan. Upaya inilah yang saya kira menjadi semangat Idrus Marham muncul sebagai ideolog politik Golkar, mengingat hari ini etika bangsa Indonesia sudah tercerabut dari akar kebudayaannya.

Idrus mencoba merefresh dan mengaktualisasikan kembali ideologi Golkar, sebuah doktrin ideologi utama yaitu ideologi Karya Kekaryaan, doktrin ini menekankan pada etos kerja dan produktivitas sebagai landasan berpolitik dan berorganisasi, jika kita merujuk pada kalam Tuhan ada sebuah pijakan di mana berkarya itu adalah ibadah, maka tak heran jika ada ayat i'maluu fasayarallahu 'amalakum wa rasuluhu wal mu'minun, berkaryalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya, serta orang-orang mukmin akan melihat karyamu itu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X