Ramadhan dan Korupsi: Publik Indonesia yang Terpaksa Menahan Emosi

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Jumat, 7 Maret 2025 | 12:48 WIB
Nafi'atul Ummah Pemerhati Sosial
Nafi'atul Ummah Pemerhati Sosial

Nafi’atul Ummah

Pengamat Sosial dan Presidium Forum Mahasiswa Ciputat (FORMACI)

 

Bulan Ramadhan kembali datang, bulan yang penuh berkah, bulan penuh ampunan dan bulan peningkatan spiritual. Umat Islam diseluruh dunia menjalankan puasa dan berlomba-lomba mendekatkan diri pada Allah SWT. dengan memperbanyak ibadah dan menahan hawa nafsu. Momen yang sungguh indah.

Namun, di Indonesia, Ramadhan bukan sekadar bulan suci, tetapi juga panggung akbar bagi hipokrisi pejabat yang berpuasa di siang hari dan berpesta dengan uang rakyat di malam hari. Hal ini menjadi cerminan kontradiksi antara nilai-nilai spiritual yang dijunjung tinggi selama bulan suci Ramadhan dan kenyataan pahit tentang korupsi yang terus terjadi di Indonesia.

Alih-alih menjadi waktu introspeksi dan perbaikan moral, bulan Ramadhan justru kerap menjadi latar terbongkarnya berbagai kasus korupsi yang tak kunjung usai. Pola yang selalu berulang setiap tahun. Pola yang menjadi ironi bahwa masyarakat terpaksa menelan kemunafikan elite, yang di satu sisi menampakkan kesalehan, tetapi di sisi lain tetap mencuri uang rakyat.

Citra dengan pose wajah penuh kesalehan didepan kamera, berdo’a dengan khusyuk, berbagi takjil, dan mengutip ayat-ayat suci, tak lain dan tak bukan hanya untuk menutupi tangan lihai mereka untuk menyelipkan uang rakyat. Seakan-akan puasa hanya untuk menahan makanan dan minuman, sementara kerakusan terhadap uang rakyat tetap berjalan tanpa jeda.

Jika Ramadhan adalah bulan menahan diri, mengapa korupsi tetap menjadi hidangan utama di meja kekuasaan?

Nilai-Nilai Ramadhan dalam Menanggapi Korupsi

Ramadhan bukan hanya bulan puasa, tetapi juga bulan untuk memperbaiki diri. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh pada puasanya yang hanya sekedar meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari)

Korupsi merupakan perbuatan dusta, dimana pejabat melakukan kebohongan terbesar kepada rakyatnya. Seorang pemimpin yang menggelapkan dana publik seharusnya merenungkan kembali esensi Ramadhan: berlatih menahan diri dari segala bentuk keserakahan dan ketidakjujuran. Sebab, puasa yang sejati bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari merampas hak orang lain.

Terbaru, kita disuguhi skandal korupsi di Pertamina, ASDP (Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan), dan level desa yang semakin kreatif dalam merancang modus. Saking normalnya korupsi di negeri ini, boleh jadi kalo korupsi ada di buku fiqih, hukumnya “mubah” boleh.

Pertama, skandal pertamina. Minyak bumi adalah sumber daya alam yang sangat berharga. Belum hilang ingatan bagaimana masyarakat mengeluhkan kenaikan bahan bakar minyak (BBM), sementara di balik layar, ada dugaan korupsi berjamaah yang merugikan negara triliunan rupiah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X