Mush’ab Muqoddas, Lc
Pengamat Terorisme di Timur Tengah
Setelah kembali ke pangkuan Pemerintah Suriah di tahun 2019, provinsi Aleppo yang berada di bagian utara Suriah pada Jumat 29 November 2024 kemarin, kembali diambil alih oleh Haiah Tahrir Syam (HTS) yang merupakan sayap Al Qaeda di Suriah. Dari Idlib, HTS bergerak ke timur, ke Aleppo. Sedangkan Hakasah, masih dikuasai oleh Syrian Democratic Army (SDA) milisi suku-suku Kurdi yang menguasai penjara Camp Al Hol (hanya 12 KM perbatasan Irak-Suriah) yang di dalamnya puluhan ribu milisi-milisi ISIS beserta keluarga mereka yang ditawan di dalamnya.
Haiah Tahrir Syam merupakan milisi bersenjata dengan pimpinan bernama Abu Muhammad Al Joulani dan berhasil menguasai seluruh elemen-elemen milisi bersenjata Al Qaeda termasuk Hurasuddin di tahun 2022 lalu. Sampai saat ini, HTS juga berperan penting dalam tewasnya pemimpin ISIS dari Abu Bakar Al Baghdadi hingga Abu Hasyim Al Qurasyi.
HTS memberikan informasi kepada Turki, anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pimpinan Amerika Serikat (AS) sehingga dengan mudah menemukan, menewaskan dan menangkap milisi-milisi ISIS. Maka dengan mudah AS menemukan persembunyian Abu Bakar Al Baghdadi. Begitu juga dengan mudah Turki menemukan Abu Hasyim Al Qurasyi beserta anggota-anggotanya.
HTS juga membentuk Pemerintah Penyelamat Nasional di Idlib yang dipimpin oleh Abu Muhamamd Al Joulani secara langsung. Mata uang yang beredar di Idlib sebagai alat tukar yang resmi disahkan HTS adalah Lira Turki, bukan Lira Suriah.
Sebagai upaya mendapatkan simpati dan dukungan dunia internasional, HTS menangkapi milisi-milisi ISIS di Idlib dan sekitarnya. Penangkapan ini kemudian dicitrakan sebagai upaya HTS memberantas terorisme. Lupa bahwa HTS berasal dari rahim Al Qaeda, induk organisasi terorisme yang juga telah melahirkan ISIS di Suriah pada tahun 2012 lalu.
Dunia Internaisonal termasuk negara-negara Islam tidak merespon pencitraan HTS. Al Qaeda telah sejak dekade 1990-an hingga tahun 2010 telah melancarkan sejumlah aksi-aksi teror di Indonesia, Kenya, Somalia, Arab Saudi, Malaysia, Filipina, Nigeria, Pakistan, Afghanistan, Mesir, dan hampir seluruh negara-negara di dunia ini telah merasakan teror Al Qaeda. Lalu, dengan pencitraan semu HTS ingin mendapatkan simpati dan dukungan, hanya dengan menangkapi teroris-teroris ISIS.
Al Qaeda yang berarti basis atau pusat pergerakan, didirikan oleh Osama bin Laden murid Abdullah Azzam tokoh Ikhwanul Muslimin (IM) Palestina dan Ayman Zawahiri murid Najih Ibrahim pendiri Jamaah Islamiyah (JI). Pendirian JI di akhir dekade 1970 merupakan respon dari gerakan moderasi internal IM yang dilakukan oleh Mursyid Am IM Omar Tilmisani sehingga hubungan IM dengan hubungan Pemerintah Mesir di bawah Presiden Anwar Sadat berangsur membaik dan kader-kader IM dibebaskan dari penjara. Moderasi ini tidak mendapatkan respon posifit dari Najih Ibrahim dan Karam Zuhdi yang saat itu masih merupakan kader-kader IM, sehingga mereka mendirikan JI.
Pada tahun 1981, JI mengeluarkan fatwa pembunuhan Presiden Anwar Sadat yang pada tahun 1979 bersama Perdana Menteri Istael Ishak Rabin menandatangani perjanjian damai Camp David, mengakhiri perang Arab-Israel. Fatwa itu didengar oleh sebagian perwira muda Tentara Mesir yaitu Mayor Khalid Islambuli yang kemudian menembaki Presiden Anwar Sadat.
Palagan Afghanistan untuk mengusir Uni Soviet menarik seluruh elemen-elemen Islamis jihadis dari berbagai dunia ke Afghanistan termasuk di antaranya adalah JI Mesir dan Darul Islam (DI) dari Indonesia. Posisi daya tawar JI Mesir yang mendominasi para mujahidin di Afghanistan memberikan inspirasi pendirian JI di berbagai negara termasuk Indonesia di dekade 1990-an. Padahal, di tahun 1995, JI Mesir mulai melakukan revisi pemikiran dan mulai mengalami proses mdoerasi.
JI di Indonesia ini kemudian bermetamorfosa menjadi Al Qaeda yang tidak hanya beranggotakan orang Indonesia akan tetapi juga orang-orang Malaysia seperti Doktor Azahari dan Nordin M Top. Bahkan, Osama bin Laden yang melihat potensi Indonesia sebagai palagan teror global dan perekrutan teroris-teroris baru, mengutus salah satu tangan kanannya yaitu Omar Farouk untuk mendanai sejumlah aksi-aksi teror dan perekrutan teroris-teroris baru memanfaatkan sejumlah konflik di Indonesia dan Filipina.