Dua Macam Pembenci Mantan Teroris, Salah Satunya Paling Berbahaya

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Jumat, 23 Agustus 2024 | 15:46 WIB
Para eks napiter bersama pejabat daerah di lapangan alun-alun Karanganyar (foto:Abdul Alim)
Para eks napiter bersama pejabat daerah di lapangan alun-alun Karanganyar (foto:Abdul Alim)

Sedangkan para tokoh radikal Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir menginginkan para kader Jamaah Islamiyah kembali melancarkan aksi-aksi teror terutama menarget aparat keamanan. Maksudnya adalah untuk sebagai bargaining power dalam berhadapan dengan pemerintah.

Para demagog ini menganggap kader-kader Jamaah Islamiyah adalah attackdog yang harus melaksanakan perintah mereka. Kenapa tidak memerintahkan kepada kader-kader Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir untuk melancarkan aksi-aksi teror ? Tujuannya agar menyelamatkan Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir dari pemantauan aparat keamanan.

Tokoh-tokoh radikal Ikhwanul Muslimin menggunakan kader-kader Jamaah Islamiyah untuk menekan aparat keamanan dan jika terjadi aksi teror mereka dengan mudah akan cuci tangan, bahkan dengan kemunafikan akan mengecam aksi teror. Padahal aksi teror itu mereka dalangi. Seperti ini cara licik tokoh-tokoh radikal Ikhwanul Muslimin yang digambarkan oleh Najih Ibrahim.

Dari kedua macam pembenci mantan teroris, kelompok kedua ini adalah yang paling berbahaya. Kebencian mereka sangat ideologis. Bahkan mereka akan menggunakan berbagai narasi dan berbagai cara untuk menekan agar kader-kader Jamaah Islamiyah kembali melakukan aksi-aksi teror demi kepentingan politik mereka.

Najih Ibrahim, Karam Zuhdi, Isham Darbalah, Osama Hafiz dan para pemimpin Jamaah Islamiyah lainnya telah mengingatkan kader-kader Jamaah Islamiyah agar tidak terpengaruh rayuan para tokoh radikal Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir. Maka tidak mengherankan jika kader-kader radikal Ikhwanul Muslimin banyak memusuhi para mantan teroris.

Beberapa bulan lalu, Jamaah Islamiyah Indonesia menyatakan membubarkan diri dan sikap ini perlu diapresiasi. Organisasi-organisasi kemasyarakatan keagamaan keislaman seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam dan Nahdlatul Wathan perlu merangkul dan membina para mantan pimpinan Jamaah Islamiyah.

Pembinaan paling penting adalah mengajak alur berfikir para petinggi Jamaah Islamiyah dengan benar sesuai jalur keilmuan yang otoritatif sehingga dapat mengkoreksi pemahaman-pemahaman dalam diksi-diksi keagamaan yang selama ini disalahpahami. Salah satu caranya adalah membuka forum ruang diskusi yang tidak satu arah.

Selain pembinaan pemikiran, tentunya pembinaan sisi ekonomi dan pemberian akses untuk beraktifitas juga penting. Hal ini agar semangat beragama dapat tersalurkan dengan benar dalam jalur yang moderat.

Pembinaan dari ormas-ormas Islam akan menjadi pondasi kepercayaan masyarakat. Karena kepercayaan masyarakat merupakan modal yang sangat penting sehingga para mantan narapidana terorisme dapat diterima untuk kembali hidup berdampingan dan terwujudnya kehidupan bermasyarakat yang tentram.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB

Muslihat AS Menyerang Iran

Selasa, 14 April 2026 | 17:11 WIB
X