Lebih jauh, Assikalaibineng mengajarkan kita untuk menata hati, pikiran, ucapan, perilaku, sampai menata imaji suami istri. Kenapa? Semua perilaku tersebut akan berdampak pada keturunan kita.
Baca Juga: 120 Hari Perang, Hamas dan Jihad Islam Palestina Bahas Operasi Badai Al Aqsa
Dalam konteks ini, hubungan seksual bukan sekadar kebutuhan rekreasi, tapi lebih dari itu merupakan kebutuhan prokreasi. Kebutuhan prokreasi inilah yang tampaknya lebih ditekankan dalam kama sutra Assikalaibineng.
Dari perspektif inilah, kitab Assikalaibineng Bugis tampak lebih komprehensif dari kama sutra India. Ini karena Assikalaibineng mengaitkan hubungan seksual dengan persoalan spiritual yang amat dalam dan luas.
Dalam Islam, ada hadis sahih yang menyatakan bahwa “orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Orang yang paling baik budi pekertinya di antara kalian adalah orang yang paling baik budi terhadap istrinya”.
Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa orang terbaik adalah orang yang paling baik terhadap istrinya. Maka seorang suami yang baik tentunya tidak memaksa istrinya untuk melakukan hubungan seksual tanpa memperhatikan kondisi fisik dan psikis istrinya; juga tanpa mengaitkan hubungan seksual dengan proses kreasi yang sakral, sesuai tuntutan Allah dan RasulNya.
Baca Juga: BAGAIMANA PANDANGAN ISLAM TENTANG KRIPTO YANG DISEBUT GIBRAN DALAM DEBAT CAWAPRES?
Dari perspektif Assikalaibineng, dapat dikatakan hubungan seksual harus dipandang sebagai "peristiwa holistik" yang akan berpengaruh besar terhadap peradaban manusia.
Ini karena peradaban manusia akan terbentuk dari keluarga-keluarga kecil yang baik dan konstruktif terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Dalam diskursus Alquran, keluarga yang baik yang dihasilkan dari sebuah pernikahan yang baik, adalah keluarga yang "sakinah mawadah wa rahmah".
Yaitu keluarga yang terdiri dari sepasang suami isteri yang damai, yang taat dan cinta kepada Allah, dengan dihiasi anak-anak yang shaleh dan shalehah.
Betapa sucinya hubungan seksual yang berbasis prokreasi ini, sehingga Islam menganggapnya sebagai ibadah. Kama sutra Assikalaibineng menyatakan bahwa dalam persetubuhan suami istri, keduanya harus tetap berkesadaran penuh (mindfulness) sembari mengingat Allah.
Dalam konteks inilah, kama sutra Assikalaibineng menganggap bahwa persetubuhan suami istri adalah sebuah peristiwa holistik, yang akan menentukan peradaban manusia.***
Artikel Terkait
Opini: Geert Wilders Menang, Islam di Belanda Meradang
Petinggi Hamas Ismail Haniyeh Serukan Negara Islam Bantu Persenjataan: Ini Bukan Pertempuran Rakyat Palestina Saja!
BAGAIMANA PANDANGAN ISLAM TENTANG KRIPTO YANG DISEBUT GIBRAN DALAM DEBAT CAWAPRES?
Hamas dan Jihad Islam Palestina soal Gencatan Senjata: Kami Ingin Jaminan Arab dan Dunia Internasional
120 Hari Perang, Hamas dan Jihad Islam Palestina Bahas Operasi Badai Al Aqsa
Hari ke-127 Perang, Jihad Islam Palestina Sebut PM Israel Benjamin Netanyahu Hanya Punya Dua Pilihan
Opini: Hak Angket dalam Transparansi dan Akuntabilitas Syariah Islam