KH Hadidul Fahmi
Pengasuh Pesantren Taujih Al Islami Banyumas
Pengurus IKANU Mesir
Syekh Ali Jum’ah adalah seorang ulama ensiklopedik (mausu’i). Di perpustakaan pribadinya tersimpan lebih dari 40 ribu judul kitab, seperti disebutkan Syekh Usamah dalam Asanid al-Mishriyyin dan Muqaddimah al-Nibras. Namun belakangan, jumlah keseluruhan kitab ini direvisi oleh Syekh Ali sendiri. Beliau mengatakan, bukan 40 ribu, tapi 80 ribu judul buku, dan beliau menyiapkan khusus 6 apartemen untuk tempat kitab kitab tersebut.
Menurut Syekh Usamah, jumlah ini bukan hiasan dinding semata seperti lazimnya kolektor buku lain. Syekh Ali Jum’ah mengetahui perjudul, perbuku, satu judul ada berapa nuskhah, letaknya dimana saja, ia dapatkan dari mana, dan kesalahan kesalahannya dimana. Tak hanya terdiri dari kitab populer, tapi juga memuat kitab kitab langka yang dimiliki oleh beberapa gelintir orang saja.
Seperti kasus Mushaf Abu Zaid. Syekh Ali Jum’ah pernah mengatakan, “saya punya dua Mushaf Abu Zaid.”
Mushaf Abu Zaid adalah Mushaf yang diberi kata pengantar oleh Syekh Ridlwan al-Mukhallalati (Syaikh ‘Umum al-Maqari al-Mishriyyah) dengan menyertakan rasm, harakat, jumlah ayat, dan kemudian Mushaf ini menjadi pedoman percetakan Mushaf oleh Malik Fuad. Pemilik percetakan adalah Abu Zaid, sehingga mushafnya disebut “Mushaf Abu Zaid”.
Syekh Ali mengatakan, beliau merunut keberadaan Mushaf ini dari pelosok maktabah ke maktabah lain, dan seumur hidup hanya melihat Mushaf asli ini dua kali. Pertama Mushaf yang dibeli pertama, tetapi kata pengantar (muqaddimah) dari Syekh Ridlwan ada yang kurang. Kedua, Mushaf Abu Zaid yang menyertakan kata pengantar lengkap Syekh Ridlwan, tapi Mushafnya yang kurang. Beliau lantas mengumpulkan keduanya sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh untuk saling melengkapi.
Pada kasus lain, beberapa puluh tahun lalu, Syekh Ali pernah mencari kitab al-Irsyadat al-Saniyyah ila al-Ahkam al-Fiqhiyyah ala Madzhab al-Syafi’i karya Abdul Mu’thi Saqa yang berjumlah dua jilid. Kitab ini adalah kitab ajaib, karena meringkas keseluruhan madzhab Syafi’i dengan ringkasan yang mencengangkan. Namun Syekh Ali hanya mendapatkan satu jilid saja. Sementara jilid kedua beliau cari selama 25 tahun baru ditemukan keberadaannya.
Begitu salah satu contoh beliau melengkapi maktabah maktabahnya dengan koleksi langka.
Musthafa Ridla menceritakan pengalaman dari para masyayikh, ketika mereka menanyakan referensi pada Syekh Ali Jum’ah, beliau hapal letaknya pada rak sebelah mana disertai tanda tertentu pada tiap halaman: satu kitab yang disebutkan secara acak di antara puluhan ribu koleksi beliau yang lain.
Fasilitas maktabah yang super lengkap ini didukung pula oleh kekuatan telaah beliau yang luar biasa, disertai kecerdasan dan ingatan yang demikian kuat. Seperti diungkapkan oleh Dr. Muhammad Imarah, “Syekh Ali Jum’ah diberi oleh Allah ingatan yang komputerpun cemburu.” Dr. Muhammad Ra’fat juga mengatakan, setiap berbicara dengan Syekh Ali dalam satu tema pembahasan, seolah Syekh Ali ini sudah mempersiapkan dengan matang tema terkait sebelumnya.
Dalam menyimpulkan satu persoalan, Syekh Ali Jum’ah dikenal enggan menjawab sebelum menelaah secara sempurna.