SENAYANPOST - Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty menyatakan upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik antara Iran dan Amerika Serikat saat ini mengalami kebuntuan. Ia menggambarkan situasi kedua negara sebagai kondisi “bukan perdamaian maupun perang”.
"Ada masalah dan, seperti yang Anda ketahui, saat ini situasinya bukan perdamaian maupun perang," ujar Abdelatty dalam wawancara dengan The National, sebagaimana dilaporkan TASS pada 26 Agustus 2026, dikutip SenayanPost.com.
Abdelatty mengatakan Mesir masih terus berkomunikasi dengan Teheran untuk mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
Menurut dia, Kairo berupaya menjaga komunikasi dengan Iran sekaligus mendorong tercapainya kesepakatan yang dapat mengakhiri ketegangan secara permanen.
Baca Juga: Presiden Iran: Nota Kesepahaman Islamabad Tak Memuat Konsesi, Teheran Tetap Pertahankan Martabat
Ia menyebut kesepakatan yang tengah didorong tersebut perlu mencakup sejumlah persoalan utama, mulai dari program nuklir Iran, pencabutan sanksi Amerika Serikat, pembukaan kembali Selat Hormuz hingga gencatan senjata permanen.
"Namun kami harus terus menghubungi pihak-pihak terkait untuk mendorong solusi damai," kata Abdelatty.
Menurut Abdelatty, kerangka kesepakatan antara Iran dan AS yang disepakati pada Juni sebelumnya dimaksudkan menjadi landasan untuk menuju penyelesaian yang lebih permanen.
Namun, proses tersebut kemudian mengalami kebuntuan dan sejumlah ketentuan penting, termasuk terkait sanksi serta pembukaan kembali Selat Hormuz, belum terealisasi.
Mesir dalam beberapa waktu terakhir terus memainkan peran sebagai salah satu mediator regional.
Baca Juga: Indonesia dan Tujuh Negara Islam Kecam Rencana Permukiman E1 Israel di Tepi Barat Palestina
Abdelatty juga telah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk membahas upaya menghidupkan kembali jalur diplomasi dan menciptakan kondisi yang memungkinkan negosiasi Iran-AS dilanjutkan.
Diplomat Mesir itu menilai penyelesaian konflik tidak cukup hanya dengan meredakan pertempuran.