SENAYANPOST - Pengamat keamanan Timur Tengah Danny Citrinowicz menilai bahwa putaran pertama pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Muscat, Oman, menandai fase baru yang lebih serius dalam upaya diplomatik kedua negara.
Namun, ia menegaskan bahwa pertemuan tersebut tidak serta-merta menunjukkan fleksibilitas atau konsesi dari pihak Iran.
"Putaran pertama pembicaraan di Oman telah berakhir dan mencakup pertemuan langsung antara perwakilan Amerika dan Iran. Hal ini, dengan sendirinya, tidak menunjukkan fleksibilitas atau konsesi Iran. Namun, ini menandakan keseriusan kedua pihak dalam mendekati pembicaraan," tulis Citrinowicz pada 7 Februari 2026, dikutip SenayanPost.com dari X @citrinowicz.
Menurutnya, berbeda dengan putaran-putaran sebelumnya, kali ini keputusan harus diambil dengan cepat.
Baca Juga: Eks Intelijen Israel: Tanpa Exit Strategy, Opsi Militer AS terhadap Iran Berisiko Tanpa Akhir
Oleh karena itu, ia menilai putaran lanjutan kemungkinan besar akan segera berlangsung.
"Tidak seperti putaran negosiasi sebelumnya, kali ini keputusan harus dibuat dengan cepat. Akibatnya, sangat mungkin putaran berikutnya sudah berada di depan mata," ujarnya.
Terkait substansi pembicaraan, Citrinowicz menilai hampir tidak ada hal baru.
Iran tetap bersikukuh menolak pembahasan apa pun di luar isu nuklir.
Bahkan dalam kerangka yang sempit tersebut, Teheran hanya bersedia menawarkan kompromi terbatas.
"Iran tetap teguh menolak membahas apa pun di luar isu nuklir. Dalam kerangka sempit itu, Teheran siap menawarkan kompromi terbatas—dengan syarat 'hak' Iran untuk pengayaan uranium tetap dipertahankan," tulisnya.
Dalam konteks ini, Citrinowicz menilai dilema strategis kini berada di pihak Washington.