internasional

Eks Intelijen Israel: Tanpa Exit Strategy, Opsi Militer AS terhadap Iran Berisiko Tanpa Akhir

Jumat, 6 Februari 2026 | 18:40 WIB
Mantan intelijen Israel Danny Citrinowicz menilai AS tanpa exit strategy terlalu berisiko menyerang Iran. (Kolase foto X.com/@WhiteHouse/@khamenei_ir)

SENAYANPOST - Mantan intelijen Israel, Danny Citrinowicz menegaskan bahwa dua kata paling krusial dalam setiap rencana militer terhadap Iran adalah exit strategy.

Menurutnya, Amerika Serikat (AS) tanpa kejelasan tujuan akhir dan tolok ukur keberhasilan, sebuah kampanye militer berisiko berubah menjadi perang tanpa titik henti.

"Bahkan di tengah ketidakpastian yang melekat pada setiap kampanye militer, sebuah pemerintahan harus jelas tentang apa yang ingin dicapai—dan, yang tak kalah penting, apa yang akan dianggap sebagai keberhasilan yang cukup untuk mengakhiri pertempuran," tulis Citrinowicz pada 6 Februari 2026, dikutip SenayanPost.com X @citrinowicz.

Ia memperingatkan bahwa tanpa kejelasan tersebut, hampir mustahil merancang mekanisme untuk mengakhiri konflik setelah dimulai—terutama dalam lingkungan yang ditandai oleh ketidakpercayaan mendalam dan risiko eskalasi tinggi.

Baca Juga: Laporan: Pembicaraan AS dan Iran di Oman Fokus Program Nuklir, Negara Kawasan Berperan di Balik Layar

"Meluncurkan kampanye militer tanpa strategi keluar yang terdefinisi dengan jelas berisiko memasuki perang tanpa keadaan akhir yang jelas—dan karenanya tanpa akhir yang jelas," ujarnya.

Citrinowicz mengakui bahwa Iran tidak menandingi AS dalam kekuatan militer konvensional.

Namun, ia menilai Teheran memiliki keunggulan fundamental yang tidak boleh diremehkan.

"Iran memang tidak menyaingi Amerika Serikat dalam kekuatan militer konvensional. Namun, Iran memiliki keuntungan mendasar: geografi yang menguntungkan, pengalaman militer, dan motivasi ideologis yang tertanam kuat," tulisnya.

Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut kerap mampu mengimbangi kesenjangan kekuatan mentah, terutama dalam perang berkepanjangan atau konflik asimetris.

Baca Juga: Jeffrey Epstein Disebut Pernah Diminta Pantau Arab Saudi di Tengah Pembersihan Ritz Carlton

"Sejarah menunjukkan bahwa faktor-faktor ini dapat menutup kesenjangan kekuatan, khususnya dalam perang yang berkepanjangan atau bersifat asimetris," katanya.

Karena itu, pengamat keamanan Timur Tengah ini juga menekankan satu kebenaran strategis yang harus dipahami Washington sebelum mengambil langkah apa pun.

Halaman:

Tags

Terkini