SENAYANPOST - Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pada hari Rabu bahwa perubahan rezim di Iran 'jauh lebih kompleks' daripada Venezuela.
Hal ini disampaikan Rubio kepada anggota parlemen selama sidang Senat setelah pemerintah AS resmi menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro baru-baru ini yang dituduh terlibat dalam kasus narkoba.
"Saya membayangkan itu akan jauh lebih kompleks daripada yang kita gambarkan sekarang, karena Anda berbicara tentang rezim yang telah berkuasa untuk waktu yang sangat lama," kata Marco Rubio pada 28 Januari 2026, dikutip SenayanPost.com dari Anadolu Agency.
Menurutnya, penggulingan rezim di Iran membutuhkan perhitungan dan pemikiran yang cermat.
"Jadi itu akan membutuhkan banyak pemikiran yang cermat, jika kemungkinan itu pernah terjadi," tambahnya.
Rubio menggambarkan kehadiran militer AS di Timur Tengah sebagai terutama defensif, mengatakan ada sekitar 30.000 hingga 40.000 tentara Amerika yang ditempatkan di delapan atau sembilan fasilitas.
Ia menambahkan bahwa pasukan tersebut berada dalam jangkauan ribuan pesawat tanpa awak (UAV) Iran dan rudal balistik jarak pendek, menggarisbawahi perlunya 'mencegah secara preemptif' potensi serangan terhadap tentara Amerika dan sekutu AS di wilayah tersebut.
"Kita harus memiliki kekuatan dan daya yang cukup di kawasan ini, setidaknya sebagai dasar untuk bertahan melawan kemungkinan itu," katanya.
"Kita juga memiliki perjanjian keamanan, rencana pertahanan Israel dan lainnya, yang mengharuskan adanya postur kekuatan di kawasan ini untuk bertahan melawan hal itu," tambahnya.
Baca Juga: Ketua Parlemen Iran: Teheran Terbuka untuk Dialog dengan AS, Jika 'Tulus'
Rubio juga mengatakan rezim di Iran 'mungkin lebih lemah' daripada sebelumnya, menuduh Teheran gagal mengatasi 'keluhan inti' para demonstran, yang menurutnya adalah 'ekonomi mereka sedang runtuh'.
Ia menambahkan bahwa protes akan kembali terjadi di masa depan kecuali pemerintah Iran bersedia berubah atau mundur.
Pernyataan Rubio menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa 'armada besar' sedang menuju Iran, dan ia menyatakan harapan bahwa Teheran akan 'datang ke meja perundingan' untuk bernegosiasi dengan Washington.