Kini, setelah jatuhnya rezim Assad dan meningkatnya narasi yang menonjolkan HTS sebagai kekuatan politik baru, wawancara ini menjadi rujukan penting untuk memahami dinamika narasi perang Suriah.
Baca Juga: Hanya 63 Detik, Ini Isi Pidato Presiden Suriah Ahmad Al Sharaa di KTT Doha
Kutipan langsung Assad menunjukkan bahwa sejak awal, konflik ini bukan hanya perang senjata, tetapi juga perang narasi antar kekuatan regional dan internasional.
Wawancara tersebut kini digunakan oleh berbagai pihak sebagai dokumen analitis—bukan untuk membenarkan atau menyalahkan Assad semata, tetapi untuk menelusuri bagaimana aktor negara seperti Qatar, Turki, dan Arab Saudi memainkan peran dalam konflik Suriah melalui pendanaan, logistik, dan media.
Di tengah derasnya narasi pro-HTS tahun 2025, wawancara lawas Assad ini kembali dimunculkan sebagai penyeimbang, agar publik tidak terjebak pada satu versi sejarah.***