SENAYANPOST - Pemimpin Arab belum lama ini berkumpul di Riyadh, ibu kota Arab Saudi untuk membahas Jalur Gaza di Palestina.
Pertemuan ini juga mengantisipasi rencana Presiden AS Donald Trump terhadap nasib Jalur Gaza ke depannya setelah perang usai.
Sebelumnya, Donald Trump berniat membeli Jalur Gaza bak properti sekaligus memindahkan sekitar 2 juta rakyat Palestina ke luar daerah kantong tersebut.
Rencana tersebut dikecam keras oleh negara-negara Arab, termasuk Arab Saudi.
Pada Jumat pekan ini, para pemimpin Arab merumuskan strategi komprehensif untuk rekonstruksi Gaza dan menentang usulan Trump agar AS mengambilalih kendali daerah tersebut.
Rencana kontroversial tersebut, yang mengusulkan pemindahan lebih dari dua juta penduduk Gaza, telah disambut dengan perlawanan Arab yang bersatu, meskipun masih ada ketidaksepakatan mengenai siapa yang harus memerintah Gaza dan bagaimana mengamankan sekitar 53 miliar dolar AS yang dibutuhkan untuk pembangunan kembali.
Sebuah foto yang ditayangkan di televisi pemerintah Saudi memperlihatkan Putra Mahkota Mohammed bin Salman bersama para pemimpin dari negara-negara Teluk Arab, Mesir, dan Yordania.
Sebuah sumber pemerintah Saudi memberi tahu AFP bahwa pertemuan tersebut berakhir tanpa pernyataan resmi, tetapi diskusi berpusat pada pengembangan rencana rekonstruksi alternatif untuk melawan inisiatif Trump.
Sebagaimana dilansir SenayanPost.com dari Al Mayadeen English pada 21 Februari 2025, Otoritas Palestina diharapkan untuk berpartisipasi dalam diskusi tersebut.
Baca Juga: Hari ke-18 Pengepungan Israel Penjajah di Tulkarem Tepi Barat Palestina, 9 Warga Syahid
Namun, mereka tidak menghadiri pertemuan di Riyadh, kemungkinan karena perbedaan pendekatan terhadap perjuangan Palestina.
Pertemuan di Riyadh menjadi ajang diskusi lanjutan pada pertemuan darurat Liga Arab yang dijadwalkan di Mesir pada tanggal 4 Maret.
Rencana Mesir untuk Gaza