Tetapi hasilnya menunjukkan bahwa Erdogan dan Partai AK yang berakar Islam mampu menggalang pemilih konservatif meskipun ada krisis biaya hidup.
Baca Juga: Penghasilan PNS Bertambah karena Sri Mulyani Tambahkan Rp500 Ribu untuk Uang Makan Per Bulan
Kilicdaroglu, kepala aliansi enam partai, bersumpah untuk menang dalam putaran kedua dan menuduh partai Erdogan mengganggu penghitungan dan pelaporan hasil, meminta para pendukungnya di negara berpenduduk 84 juta itu untuk bersabar.
Pemilihan Penting
Prospek pemerintahan Erdogan memasuki dekade ketiga akan mengecewakan para aktivis hak-hak sipil yang mengkampanyekan reformasi untuk memperbaiki kerusakan yang mereka katakan telah dia lakukan terhadap demokrasi Turki.
Baca Juga: Presiden Jokowi Tanggapi Kritik Anies Baswedan Terkait Subsidi Kendaraan Listrik
Ribuan tahanan politik dan aktivis bisa dibebaskan jika oposisi menang.
Sementara itu, indeks saham utama Turki anjlok 6,4 persen dalam perdagangan pra-pasar, dengan indeks perbankan turun 9,5 persen.
Pemilihan telah diawasi dengan ketat di Eropa, Washington, Moskow, dan di seluruh wilayah, di mana Erdogan telah menegaskan kekuatan Turki sambil memperkuat hubungan dengan Rusia dan memberi tekanan pada aliansi tradisional Ankara dengan Amerika Serikat.
Baca Juga: Setelah Perpanjang SIM Digugat, Kini Perpanjang STNK juga Digugat ke Mahkamah Konstitusi
Erdogan adalah salah satu sekutu utama Presiden Vladimir Putin dan penampilannya yang kuat kemungkinan akan mendorong Kremlin.
Tetapi sikap Erdogan itu membuat bingung pemerintahan Biden, serta banyak pemimpin Eropa dan Timur Tengah yang memiliki hubungan bermasalah dengan Erdogan.***
Artikel Terkait
Gempa Turki Akan Berlangsung Satu Tahun
Taliban Diajak 'Bukber' Amerika Serikat di Istanbul Turki
Turki-Suriah Bahas Pemulangan Pengungsi, Sudahi Perang ?
Amerika Serikat Protes Raja Salman Karena Undang Presiden Basyar Al Asad
Rakyat Turki Laksanakan Pemilu, Kursi Presiden Recep Tayyip Erdogan 'Terancam' usai 20 Tahun Berkuasa