SENAYANPOST - Batalnya pagelaran Piala Dunia U-20 terus menarik untuk didiskusikan. Berbagai isu berkaitan dengan batalnya salah satu ajang bergensi tersebut tidak hanya isu-isu politik dalam negeri akan tetapi juga luar negeri.
Minggu, 7 Mei 2023, Yayasan Rahim Perdamaian Dunia yang konsen mengkaji isu-isu perdamaian dunia kembali menyelenggarakan disksusi publik via zoom bertajuk "Relasi Indonesia-Israel Pasca Batal Piala Dunia U-20 di Indonesia".
Dalam diskusi ini Rahim mengundang sejumlah tokoh publik sebagai narasumber: K.H. Mukti Ali Qusyairi, M.A. (Direktur Eksekutif Rahim Perdamaian), Dr. K.H. Zainul Maarif, M.Hum. (Dosen Filsafat di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia/UNUSIA), Leo Yuwono (Ketua Eits Chaim Indonesia), dan K.H. Roland Gunawan (Wakil Ketua LBM PWNU DKI Jakarta). Niruban Balachandran jebolan universitas terbaik sedunia Harvard dan peneliti asal Amerika, secara khusus dihadirkan untuk menyampaikan keynote speech.
Dalam paparannya Niruban Balachandran menyampaikan bahwa Indonesia merupakan sebuah negara yang dalam wilayah Asia termasuk strategic area, dan bahkan sangat strategis. Sehingga setiap peristiwa di dalamnya akan memiliki dampak besar. Termasuk soal gagalnya perhelatan Piala Dunia U-20, karena ada elit politik yang menyuarakan penolakan kehadiran Timnas Israel di dalamnya.
"Dua tokoh berpengaruh, Ganjar dan Koster, menolak Timnas Israel dengan alasan untuk membantu rakyat Palestina. Ini tidak membantu sama sekali. Justru berdampak pada penurunan suara Ganjar. LSI luar biasa mengeluarkan hasil survei yang berbeda dengan langkah politik Ganjar, bahwa 71% rakyat Indonesia tidak keberatan sama sekali Timnas Israel dan tidak menolak juga," ungkapnya.
Niruban menegaskan bahwa secara ekonomi Indonesia mengalami kerugian finansial cukup besar, bisa mencapai Triliyunan Rupiah. Korporasi, sponsorship, berbagai UMKM pembuat sovenir, semua mengalami kerugian karena batalnya Piala Dunia U-20 di Indonesia.
"Perusahaan-perusahaan besar mengharapkan keuntungan dan sudah ada gerakan serta dana yang dikeluarkan, sudah mengalokasikan dana tapi batal. Jika mereka mau bisa saja melakukan tuntutan hukum, sebagai wanprestasi. FIFA juga tidak akan pasang badan, dan pasti bisa bilang 'silahkan tuntut saja tuan rumahnya'. Ini potensi dampak kerugian materiil juga jika tuntutan itu terjadi," tegasnya.
Niruban menambahkan bahwa sebetulnya Timnas Israel tidak hanya beragama Yahudi, tetapi juga beragama Islam yang berasal dari Arab. Mereka semua adalah warga negara Israel. Sangat aneh bahwa orang Indonesia susah menerima kebenaran Timnas Israel bukan hanya Yahudi, tetapi juga ada muslim dan Arab.
Mukti Ali Qusyairi menyampaikan bahwa Indonesia menganut demokrasi sebagai sistem bernegara dan berbangsa. Semua orang dari pejabat hingga rakyat bisa menyuarakan pendapatnya. Pro-kontra soal keterlibatan Timnas Israel di Piala Dunia U-20 adalah salah satu contoh nyata berjalannya demokrasi di Indonesia.
Sebagian elit politik, kata Mukti, menolak keterlibatan Timnas Israel yang mengakibatkan Indonesia gagal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20. Tetapi 71% masyarakat versi LSI atau bahkan 83% versi Indikator menyuarakan pendapat yang mendukung timnas Israel bermain di Indonesia.
"Itu adalah cerminan demokrasi. Dan menurut saya angka 71% atau bahkan 83% ini harus disurvei secara berkala perkembangannya. Meski demikian angka itu menunjukan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia soal pluralisme agama, khususnya Yahudi dan Israel, mengalami kemajuan," jelas Mukti.
Tetapi, Mukti mengingatkan, bahwa demokrasi di Indonesia bukan demokrasi yang bebas dan tanpa batas, melainkan demokrasi yang selaras dengan konstitusi. "Karena itu, sangat penting bagi yang menginginkan perubahan untuk berjuang di ranah UU dengan melakukan revisi atau mengajukan Judicial Review. Tetapi untuk menuju ke sana, diperlukan banyak buku hasil kajian ilmiah, penelitian lapangan, survei dan advokasi. Sehingga memiliki landasan ilmiah dan kajian empirik," tuturnya.
Ke depan, menurut Mukti, Rahim akan melakukan banyak penelitian, kajian dan diskusi tentang sejarah dan faktor-faktor terjadinya antisemitik dan islamophopia.
Zainul Maarif menyampaikan terkait dengan relasi Indonesia-Israel pasca batalnya Piala Dunia U-20 terdapat persoalan prinsipil yang harus dibahas, yaitu hubungan Indonesia dengan dunia internasional secara komprehensif. Pertama, prinsip Indonesia adalah politik bebas aktif. Tidak terkungkung pada satu pihak dan tidak ikut blok tertentu, non-blok. Kedua, prinsip konstitusional untuk turut menciptakan perdamaian dunia.