Di Tengah Kebuntuan Negosiasi AS dan Iran, Harga Minyak Tembus 110 Dolar per Barel

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Senin, 18 Mei 2026 | 17:05 WIB
Ilustrasi, negosiasi antara AS dan Iran masih mengalami jalan buntu, harga minyak perlahan merangkak naik tembus 110 dolar AS per barel. (Unsplash.com/Engin Akyurt)
Ilustrasi, negosiasi antara AS dan Iran masih mengalami jalan buntu, harga minyak perlahan merangkak naik tembus 110 dolar AS per barel. (Unsplash.com/Engin Akyurt)

Beberapa kapal tanker minyak mentah juga dilaporkan kembali melanjutkan perjalanan, termasuk kapal tanker tujuan Vietnam yang membawa minyak Irak dan sebelumnya sempat tertahan akibat pembatasan AS.

Namun, pasar tetap menilai situasi masih sangat rapuh dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Di sisi lain, Kementerian Perminyakan Irak menyebut negaranya masih mampu mengekspor sekitar 10 juta barel minyak selama April meski arus distribusi melalui Selat Hormuz terganggu.

Jumlah tersebut setara sekitar 300 ribu barel per hari—jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik, ketika ekspor Irak melalui Selat Hormuz mencapai sekitar 93 juta barel per bulan.

Baca Juga: Kabar Baik, Bahlil Lahadalia Sebut Indonesia Akan Dapat Pasokan Minyak Mentah dari Rusia

Kondisi ini membuat pasar global semakin bergantung pada cadangan minyak dan sumber pasokan alternatif, termasuk dari Rusia.

Sebelumnya, AS sempat memberikan pengecualian terhadap penjualan minyak Rusia sehingga memungkinkan sejumlah besar minyak yang tersimpan di laut kembali dipasarkan.

Namun, pengecualian tersebut berakhir akhir pekan lalu dan hingga kini belum diperpanjang.

Sementara itu, data terbaru Baker Hughes menunjukkan produsen minyak AS mulai meningkatkan aktivitas pengeboran di tengah tingginya harga minyak.

Jumlah rig minyak aktif di AS naik lima unit menjadi 415 rig, tertinggi sejak November 2025.

Baca Juga: Indonesia–Rusia Jajaki Kontrak Minyak Jangka Panjang di Tengah Gejolak Timur Tengah

Tidak hanya pasar minyak, pasar gas Eropa juga kembali mengalami tekanan. Harga gas TTF Eropa menembus EUR50 per megawatt hour (MWh) di tengah kekhawatiran terganggunya pasokan LNG dari Teluk Persia.

Analis menilai pasar gas selama ini meremehkan besarnya dampak gangguan pasokan dari kawasan tersebut.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan persaingan pembelian gas antara negara-negara Asia dan Eropa.

Di saat yang sama, cadangan gas Uni Eropa masih berada di level relatif rendah, yakni sekitar 36 persen, dibanding rata-rata lima tahun sebesar 50 persen.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: ING

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X