SENAYANPOST - Pengamat keamanan Timur Tengah, Danny Citrinowicz menilai bahwa kebijakan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran selama ini terhambat oleh kesenjangan konseptual mendasar dalam memahami cara rezim Ayatollah Ali Khamenei memandang risiko, kekuatan, dan kelangsungan hidupnya.
"Pada akhirnya semuanya kembali ke satu isu utama: pemerintahan-pemerintahan AS berturut-turut mengalami kesenjangan konseptual mendalam dalam memahami rezim Iran," tulis Citrinowicz pada 22 Februari 2026, dikutip SenayanPost.com dari akun X pribadinya.
Sejak awal, menurutnya, banyak pakar regional telah menegaskan bahwa Teheran beroperasi dengan garis merah yang jelas—terutama terkait kelangsungan rezim, kemampuan deterensi strategis, dan pengaruh regional.
Baca Juga: Donald Trump Ultimatum Lagi, Ancam Serang Iran dari Pangkalan Diego Garcia di Samudera Hindia
Kepentingan inti tersebut, kata dia, tidak akan ditinggalkan bahkan jika menghadapi risiko konfrontasi militer.
Namun, peringatan semacam itu kerap diabaikan oleh asumsi bahwa tekanan ekonomi atau militer yang cukup besar pada akhirnya akan memaksa Iran menyerah.
"Perkembangan terbaru seharusnya membuat satu hal jelas: eskalasi militer kecil kemungkinan akan memaksa Iran menyerah. Sebaliknya, ancaman eksternal justru memperkuat kohesi internal rezim dan memvalidasi narasi perlawanan yang selama ini mereka bangun," ujarnya.
Citrinowicz menilai situasi saat ini unik karena sebenarnya kedua pihak lebih memilih kesepakatan daripada konflik terbuka.
Namun, negosiasi terus gagal bukan semata karena tujuan yang tak bisa didamaikan, melainkan karena kesenjangan persepsi dan ketidakpercayaan mendalam.
Baca Juga: Citrinowicz: Iran Paham Posisi Lemahnya, Tapi Merasa Tak Punya Pilihan Lain
"Washington di bawah administrasi Donald Trump sering melihat Iran melalui kerangka rasionalisme Barat—keyakinan bahwa tekanan yang meningkat akan menghasilkan konsesi pragmatis. Teheran, sebaliknya, menafsirkan tekanan berkelanjutan sebagai bukti permusuhan struktural yang justru memperkuat tekadnya untuk bertahan," tulisnya.
Menurut Citrinowicz, selama pembuat kebijakan AS masih menilai Iran melalui lensa politik Barat—dengan asumsi kalkulasi untung-rugi semata—maka konflik bukan lagi sekadar pilihan kebijakan, melainkan sesuatu yang hanya menunggu waktu.
"Isu utamanya bukan apakah tekanan berhasil. Isu utamanya adalah apakah strategi AS didasarkan pada pemahaman yang akurat tentang bagaimana rezim ini mendefinisikan risiko, kelangsungan hidup, dan kemenangan," tegasnya.
Artikel Terkait
Ali Larijani Tuduh Israel Penjajah Sabotase Negosiasi Program Nuklir antara AS dan Iran, Sebut Pengayaan Uranium 0 Persen Mustahil
Menlu AS Marco Rubio Sebut Washington Prioritaskan Kesepakatan Diplomatik soal Program Nuklir Iran
Bukan Bahas Iran dan Gaza, Netanyahu ke AS Minta Trump Desak Presiden Israel Berikan Amnesti atas Kasus Korupsinya
Citrinowicz: Iran Paham Posisi Lemahnya, Tapi Merasa Tak Punya Pilihan Lain
Donald Trump Ultimatum Lagi, Ancam Serang Iran dari Pangkalan Diego Garcia di Samudera Hindia