SENAYANPOST - Pengamat hubungan internasional Trita Parsi menyoroti peran signifikan beberapa negara regional dalam mencegah eskalasi militer di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Menurut Parsi, Mesir, bersama dengan Turki, Arab Saudi, Qatar, dan Oman, telah bergerak secara diam-diam untuk menahan laju perang yang bisa menimbulkan instabilitas besar di kawasan.
"Mesir telah memainkan peran impresif di balik layar—bersama Turki, Arab Saudi, Qatar, dan Oman—untuk menghindari perang ini. Bukan semata-mata karena mereka menyadari eskalasi akan sulit dikendalikan, atau karena perang akan menimbulkan gelombang pengungsi dan ketidakstabilan di seluruh wilayah," tulis Trita Parsi pada 1 Februari 2026, dikutip SenayanPost.com dari X @tparsi.
Parsi menekankan bahwa faktor-faktor seperti potensi pengungsi atau instabilitas regional memang sudah ada sebelumnya.
Namun, perbedaan signifikan kali ini terletak pada pergeseran geopolitik regional setelah Amerika Serikat (AS) melonggarkan pembatasan terhadap Israel pasca peristiwa 7 Oktober.
Sejak itu, Israel telah menyerang tujuh negara di kawasan dan menampilkan diri sebagai penegak hegemoni Amerika di Timur Tengah.
Hal ini membuat negara-negara regional menyadari bahwa aliansi mereka dengan Washington tidak secara otomatis melindungi mereka dari perilaku Israel yang semakin agresif.
"Negara-negara ini juga belajar bahwa aliansi mereka dengan AS tidak akan melindungi mereka dari pendekatan Israel yang semakin agresif dan sembrono, mengingat kemampuan Israel untuk menyerang Qatar tanpa sistem pertahanan Amerika pun aktif," kata Parsi.
Dalam konteks ini, langkah logis bagi negara-negara tersebut adalah mencari cara lain untuk menyeimbangkan kekuatan Israel.
Dari sinilah terbentuk embrio blok yang dipimpin oleh Arab Saudi, Pakistan, Mesir, dan Turki.
Iran tidak secara resmi tergabung dalam blok ini, tetapi berperan sebagai buffer de facto antara blok tersebut dan Israel.
"Jika Iran melemah lebih jauh, terguncang, atau—lebih buruk lagi—rezim pro-Israel dibentuk di sana, hal ini akan menjadi pukulan besar bagi negara-negara ini dalam persaingan mereka yang tak diinginkan dengan Israel dan sekutunya, Uni Emirat Arab," jelas Parsi.
Artikel Terkait
Menlu AS Marco Rubio Singgung Perubahan Rezim di Iran: Lebih Kompleks dari Venezuela
Jika Rezim Iran Runtuh, Siapa yang Mengisi Kekuasaan? Ini Jawaban dari Washington
Mantan Diplomat Inggris Klaim Iran Dapat Kalahkan Israel Penjajah dalam Perang Besar
Veteran Kerajaan Tailan: Konflik AS dan Iran Bisa Picu Krisis Ekonomi Global hingga Goyahkan Timur Tengah
Presiden AS Donald Trump Berharap Iran Terima Kesepakatan dengan Washington, Singgung soal Senjata Nuklir