SENAYANPOST - Saat ini, Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi sorotan di tengah ancaman invasi militer di Timur Tengah.
Menurut veteran Kerajaan Tailan, konflik antara AS dan Iran bisa memicu krisis ekonomi global hingga menggoyahkan kawasan.
Tidak hanya itu, konflik keduanya dapat mengikuti skenario seperti Vietnam.
Hal ini diungkap pensiunan Jenderal Angkatan Darat Kerajaan Tailan dan pakar ekonomi geopolitik, Somchai Virunhaphol belum lama ini.
Baca Juga: Mantan Diplomat Inggris Klaim Iran Dapat Kalahkan Israel Penjajah dalam Perang Besar
"Kemampuan perang asimetris Iran, pasukan proksi, drone, rudal, dan kemampuan siber – dapat mempertahankan perlawanan yang berkepanjangan. Perang yang berkepanjangan akan menghancurkan ekonomi global, menggoyahkan seluruh Timur Tengah, berpotensi melibatkan kekuatan besar, dan pada akhirnya dapat berakhir seperti Vietnam – membuktikan bahwa kekuatan militer saja tidak dapat mengalahkan rakyat yang memperjuangkan kedaulatan dan keyakinan mereka. Biayanya tidak akan diukur dalam miliaran tetapi dalam triliunan, dan bukan dalam ribuan tetapi berpotensi jutaan nyawa," kata Somchai Virunhaphol pada 31 Januari 2026, dikutip SenayanPost.com dari TASS News Agency.
Virunhaphol mengungkapkan bahwa serangan AS ke Iran bisa menimbulkan risiko bencana yang melampaui kawasan.
"Serangan militer AS terhadap Iran menimbulkan risiko bencana yang jauh melampaui kawasan terdekat. Pertama, Iran memiliki apa yang saya sebut sebagai 'senjata nuklir ekonomi,' kemampuan untuk menutup Selat Hormuz dan menghancurkan infrastruktur minyak di seluruh Teluk, berpotensi menghilangkan 12-20 juta barel per hari dari pasar global dan memicu harga minyak hingga 100-150 dolar per barel, menyebabkan resesi di seluruh dunia," lanjutnya.
Baca Juga: Jika Rezim Iran Runtuh, Siapa yang Mengisi Kekuasaan? Ini Jawaban dari Washington
Menurut Virunhaphol, ada kesamaan sejarah antara konflik Iran saat ini dengan Vietnam era Ho Chi Minh.
"Kedua, kita harus belajar dari sejarah. Persamaan antara Iran saat ini dan Vietnam di bawah Ho Chi Minh sangat mencolok – keduanya memiliki fondasi ideologis yang kuat yang mencampur agama atau ideologi dengan nasionalisme, dukungan dari kekuatan besar seperti Tiongkok dan Rusia, dan penduduk yang bersedia berkorban untuk keyakinan mereka. Keunggulan militer saja tidak dapat mengalahkan tekad seperti itu, seperti yang dipelajari Amerika di Vietnam. Ketiga, konflik ini dapat memaksa Tiongkok dan Rusia ke dalam posisi sulit. Setelah kehilangan pasokan minyak Venezuela, Tiongkok tidak punya pilihan selain membela Iran," lanjut pakar tersebut.
Ia juga menyorot standar ganda yang diberlakukan AS dan dan ditunjukkannya kepada dunia secara terang-terangan.
Baca Juga: Menlu AS Marco Rubio Singgung Perubahan Rezim di Iran: Lebih Kompleks dari Venezuela
"AS mengancam akan menyerang Iran atas protes yang menewaskan ribuan orang, sementara secara bersamaan memberikan bantuan militer sebesar 21,7 miliar dolar kepada Israel meskipun lebih dari 100.000 warga Palestina tewas di Gaza. Kemunafikan ini merusak otoritas moral apa pun. Yang terpenting, Iran tidak selemah yang digambarkan media Barat. Sistem pemerintahannya memiliki banyak lapisan ketahanan, jutaan orang masih mendukung Republik Islam, dan kita tidak tahu senjata apa yang diam-diam diberikan China dan Rusia," tutupnya.
Artikel Terkait
Presiden AS Donald Trump Berniat Lanjutkan Dialog dengan Iran, Desak Teheran Hentikan Pengembangan Senjata Nuklir
Menlu AS Marco Rubio Sebut Pemerintah Iran Melemah dari Sebelumnya, Ungkap Alasan Kirim USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah
Menlu AS Marco Rubio Singgung Perubahan Rezim di Iran: Lebih Kompleks dari Venezuela
Jika Rezim Iran Runtuh, Siapa yang Mengisi Kekuasaan? Ini Jawaban dari Washington
Mantan Diplomat Inggris Klaim Iran Dapat Kalahkan Israel Penjajah dalam Perang Besar