SENAYANPOST - Pihak Israel penjajah kembali melakukan pelanggaran kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza dengan membombardir daerah kantong tersebut.
Setidaknya 15 orang warga Palestina dinyatakan meninggal dunia akibat insiden tersebut, di tengah berlangsungnya pertukaran sandera dari kedua belah pihak.
Insiden tersebut terjadi pada Minggu, 19 Oktober 2025 yang menunjukkan pelanggaran gencatan senjata yang signifikan.
Lebih dari 100 serangan udara dilaporkan di Rafah dan Khan Younis di selatan, Jabalia di utara, dan sebagian wilayah Gaza tengah.
Di antara lokasi yang diserang terdapat sebuah kafe, stasiun pengisian daya ponsel, sekelompok jurnalis, dan sebuah rumah yang menampung para pengungsi.
Baca Juga: Pejabat Senior Hamas Sebut Bakal Tetap Menjaga Kendali Keamanan Jalur Gaza, Tolak Pelucutan Senjata
Militer Israel mengatakan serangan itu merupakan tanggapan atas dugaan "serangan" oleh warga Palestina terhadap pasukannya di Rafah selatan yang melibatkan granat berpeluncur roket dan tembakan penembak jitu.
Tidak ada laporan langsung mengenai korban jiwa dari pihak Israel dalam dugaan serangan tersebut.
Klaim tersebut belum bisa diklarifikasi secara independen.
Sayap bersenjata Hamas, Brigade Izzuddin Al Qassam, membantah mengetahui atau memiliki hubungan dengan dugaan serangan tersebut, yang menurut Israel terjadi di wilayah yang berada di bawah kendalinya.
Hamas mengatakan tidak melakukan kontak dengan para pejuangnya di wilayah tersebut sejak Maret.
"Kami tidak terlibat dalam peristiwa apa pun yang terjadi di wilayah tersebut dan tidak dapat berkomunikasi dengan pejuang kami di sana, jika ada di antara mereka yang masih hidup," kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan, seraya menambahkan bahwa mereka tetap berkomitmen pada gencatan senjata pada 19 Oktober 2025, dikutip SenayanPost.com dari Middle East Eye.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya mengatakan bahwa tentara akan mengambil 'tindakan tegas terhadap target teror di Jalur Gaza' setelah dugaan serangan tersebut, yang menurut media lokal terjadi di luar apa yang disebut 'Garis Kuning', sebuah demarkasi di dalam Gaza tempat pasukan Israel ditempatkan.
Artikel Terkait
Hamas Pelajari Proposal Gencatan Senjata di Jalur Gaza yang Diusulkan Presiden AS Donald Trump
639 Hari Peperangan dengan Israel, Hamas Sambut 'Positif' Proposal Gencatan Senjata di Jalur Gaza
Pejabat Israel Sebut Gencatan Senjata di Gaza Butuh Waktu Lebih Lama, Ini Alasannya
Hamas Setujui Proposal Gencatan Senjata di Gaza, Netanyahu Sebut Gerakan Perlawanan Palestina Melemah
Israel Penjajah Tuding Hamas Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata, Netanyahu Bersikeras Tutup Perbatasan Rafah