SENAYANPOST - Presiden Suriah Ahmad al Sharaa mengonfirmasi bahwa perundingan keamanan dengan Israel sedang berlangsung.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa negosiasi tersebut bertujuan untuk memulihkan pengaturan keamanan yang ada berdasarkan perjanjian pelepasan tahun 1974.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara yang disiarkan televisi dengan Al Ekhbariah, media pemerintah, pada hari Jumat.
Al Sharaa mencatat bahwa Israel awalnya memandang runtuhnya rezim Suriah sebelumnya sebagai pelanggaran perjanjian.
Baca Juga: Komite DPR AS Tolak Amandemen Anggaran Pertahanan, Caesar Act Masih Hantui Suriah
Tetapi Damaskus menegaskan kembali komitmennya 'sejak awal', dengan memberi tahu Perserikatan Bangsa-Bangsa dan menyerukan pasukan UNDOF untuk kembali ke posisi mereka sebelumnya di zona pelepasan.
"Kami saat ini sedang dalam proses diskusi dengan Israel, yang menganggap jatuhnya rezim sebelumnya sebagai penarikan Suriah dari Perjanjian 1974, meskipun Suriah telah menegaskan komitmennya sejak awal, memberi tahu Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan meminta pasukan UNDOF untuk kembali ke posisi mereka sebelumnya," ujar Ahmad Al Sharaa pada 12 September 2025, dikutip SenayanPost.com dari Sana News Agency.
Presiden Al Sharaa menuduh Israel berusaha memecah belah Suriah dan 'terkejut' dengan jatuhnya pemerintahan sebelumnya secara cepat.
Ia menambahkan bahwa beberapa kebijakan Israel menunjukkan 'penyesalan' atas keruntuhan tersebut, menuduh Israel lebih suka Suriah tetap menjadi medan perang untuk penyelesaian masalah regional.
Baca Juga: Menlu Assad Al Shaibani: Hubungan Suriah dan Rusia Dalam, Tapi Kurang Seimbang
"Ketakutan yang berlebihan mengarah pada perang," ia memperingatkan, mendesak de-eskalasi.
Al Sharaa menekankan bahwa Suriah menginginkan hubungan yang tenang dengan semua negara, termasuk Amerika Serikat, Rusia, dan negara-negara tetangga Arabnya, dengan membingkai diplomasi sebagai landasan pemulihan pascaperang.
"Suriah telah berhasil membangun hubungan baik dengan Amerika Serikat dan Barat, mempertahankan hubungan yang tenang dengan Rusia, dan menjalin hubungan baik dengan negara-negara regional," ujarnya.
Presiden Suriah mengakui bahwa hubungan dengan Iran masih rumit tetapi tidak sampai menyatakan pemutusan permanen.
Artikel Terkait
Amnesti Internasional: Pasukan Pemerintah Suriah dan Afiliasinya Eksekusi Mati Puluhan Warga Druze di Suwayda
Produk Turki Banjiri Pasar Suriah hingga Barang Lokal Sulit Bersaing, Nilai Impor Capai Rp19,77 Triliun dalam 7 Bulan
Rusia Sambangi Suriah, Tawarkan Mediasi dengan Israel Penjajah
Menlu Assad Al Shaibani: Hubungan Suriah dan Rusia Dalam, Tapi Kurang Seimbang
Komite DPR AS Tolak Amandemen Anggaran Pertahanan, Caesar Act Masih Hantui Suriah