Penting Bagi Palestina, Dosen Alistiqlal University Palestine Dukung Manifesto Internasional (Terbuka) Filsafat Intelijen untuk Pembelajaran di Kampus

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Kamis, 21 Agustus 2025 | 07:34 WIB

SENAYANPOST - Dukungan bagi Manifesto Internasional (Terbuka) Filsafat Intelijen yang digagas oleh Guru Besar Filsafat Intelijen Jenderal TNI (Purn) Prof Dr Abdullah Mahmud Hendropriyono terus mengalir.

Salah satu dukungan berasal dari Assoc Prof Abdallatif M. Abuowdah, dosen Fakultas Ilmu Administrasi Alistiqlal University yang berada di Ariha Palestina.

"Saya setuju dengan gagasan manifesto ini, dan berharap turut bergabung dalam mendukungnya," jelasnya kepada Senayan Post pada Rabu 20 Agustus 2025 malam.

Menurutnya, Filsafat Intelijen penting untuk diajarkan termasuk kepada mahasiswa Palestina di Alistiqlal University yang didirikan oleh Mantan Kepala Badan Keamanan Nasional Palestina Letjen (Purn) Alhaj Ismail Abou Jabar di tahun 1997 dengan nama awal yaitu Palestine Academy of Security Sciences. Pada tahun 2007 Presiden Palestina Mahmud Abbas mengubah Palestine Academy of Security Sciences menjadi Alistiqlal University yang tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu kemiliteran dan keamanan, akan tetapi juga ilmu-ilmu umum lainnya seperti administrasi, humaniora dan hukum.

Manifesto Internasional (Terbuka) Filsafat Intelijen dideklarasikan oleh sejumlah guru besar di Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada Senin 18 Agustus 2025 kemarin, sebagai kritik atas operasi-operasi intelijen liar yang tidak berlandaskan etika dan merugikan bagi kemanusiaan dan pembangunan berkemajuan suatu bangsa. Adapun isi dari manifesto tersebut adalah :

 

MANIFESTO INTERNASIONAL (TERBUKA) FILSAFAT INTELIJEN Pembukaan Kami, para cendekiawan, praktisi, dan pemerhati intelijen dari seluruh penjuru dunia, menyadari bahwa perkembangan keadaan internasional dewasa ini menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan. Dunia sedang dilanda gelombang proxy war yang bersenjatakan hoaks, disinformasi, dan simulakra— rekayasa realitas yang mengaburkan kebenaran. Fenomena ini bukan hanya memecah belah antarbangsa, tetapi juga mengikis kepercayaan publik terhadap institusi, hukum, dan kebenaran itu sendiri. Sejalan dengan tanggung jawab moral kita sebagai bagian dari komunitas global, kami menyatakan Manifesto ini sebagai seruan etis untuk mengembalikan fungsi sejati intelijen bagi kemaslahatan umat manusia dan kelestarian lingkungannya.

1. Paradigma Intelijen untuk Kemaslahatan Manusia dan Lingkungan

Intelijen sejati tidak hanya berurusan dengan keamanan negara, tetapi juga dengan keamanan hidup umat manusia dan kelestarian lingkungan. Paradigma intelijen yang kami usung adalah paradigma yang humanis, etis, dan berorientasi pada masa depan, yang mengutamakan kehidupan damai dan keberlanjutan ekologis.

2. Etika Universal sebagai Landasan Intelijensia

Etika universal harus menjadi fondasi dari seluruh kegiatan intelijen. Intelijen, pada hakikatnya, adalah panca indera setiap bangsa yang berfungsi mengamati, menganalisis, dan memperingatkan. Tanpa etika, intelijen mudah tergelincir menjadi alat penindasan dan kebohongan. Dengan etika, intelijen menjadi pelindung kebenaran dan penegak keadilan.

3. Penolakan terhadap Praktik Intelijen yang Tidak Jujur

Kami menolak segala bentuk praktik intelijen yang tidak jujur—yakni yang cenderung tidak benar (inaccurate) dan tidak tepat (inappropriate)—yang mengakibatkan penderitaan berkepanjangan bagi umat manusia. Intelijen yang menyesatkan adalah pelanggaran moral terhadap tanggung jawab kemanusiaan.

4. Pemajuan Filsafat Intelijen sebagai Disiplin Ilmu

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

X