Eks Dubes AS Akui Bantu Ahmad Al Sharaa alias Abu Muhammad Al Julani Rebranding dari Teroris Jadi Politikus Suriah

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Minggu, 10 Agustus 2025 | 21:09 WIB
Pengakuan eks Dubes AS Robert Ford yang membantu rebranding Ahmad Al Sharaa atau Abu Muhammad Al Julani dari teroris jadi politikus Suriah. (X.com)
Pengakuan eks Dubes AS Robert Ford yang membantu rebranding Ahmad Al Sharaa atau Abu Muhammad Al Julani dari teroris jadi politikus Suriah. (X.com)

SENAYANPOST - Bicara soal konflik Suriah, kita sering tenggelam dalam drama peperangan, korban, dan gesekan politik.

Namun, di balik itu semua, ada permainan geopolitik yang rumit dan sering kali tak tampak jelas ke permukaan.

Salah satu yang mengejutkan adalah pengakuan mantan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Suriah, Robert Ford, yang secara terbuka mengakui perannya dalam membantu Ahmad Al Sharaa atau sebelumnya dikenal Abu Muhammad Al Julani— mengubah citranya alias rebranding dari seorang komandan militan teroris menjadi seorang politisi yang berkuasa di wilayah oposisi Suriah.

Ford bukan sekadar diplomat biasa. Dia pernah bertugas di Irak selama masa-masa paling berdarah dan berbahaya, tepatnya antara 2003 hingga 2010, serta menjadi Duta Besar AS untuk Aljazair.

Dalam keterangannya, Ford menggambarkan sosok Al Julani sebagai komandan senior Al Qaeda di Mosul, sebuah kota yang oleh pasukan AS dikenal sebagai zona merah dengan banyak serangan mematikan yang menewaskan diplomat dan ratusan tentara Amerika.

Baca Juga: Pemuka Druze di Suwayda Suriah Protes ke Damaskus, Syaikh Yusuf Jarbou dan Syaikh Hammoud Al Hanawi Merapat ke Barisan Syaikh Hikmat Al Hijri

"Bagi orang Amerika yang berada di Irak, Anda mungkin ingat Mosul adalah salah satu tempat terburuk dan paling menjijikkan. Departemen Luar Negeri sebenarnya kehilangan lima personel diplomatik dalam dua bom mobil yang berbeda di Mosul selama waktu itu. Dan ratusan tentara Amerika terbunuh atau terluka di daerah Mosul itu oleh orang ini dan para pejuangnya," kata Robert Ford pada 13 Mei 2025, dikutip SenayanPost.com dari YouTube Baltimore Council on Foreign Affairs.

Namun, kisah yang terungkap kemudian tak kalah dramatis.

Pada 2023, sebuah organisasi non-pemerintah Inggris mengajak Ford membantu memfasilitasi proses 'rebranding' Al Julani, membawa pria yang dulu disebut teroris ini keluar dari dunia kekerasan dan memasukkannya ke ranah politik.

Ford mengaku awalnya ragu, bahkan membayangkan dirinya dalam situasi ekstrim yang membahayakan nyawa.

Baca Juga: Ahmad Al Sharaa Presiden Sementara Suriah Masih Masuk Daftar Teroris PBB, Ini yang Dilakukan oleh AS

Namun setelah bertemu langsung, Ford terkejut mendapati Al Julani berbicara dengan nada lembut.

"Dia (Julani) tidak pernah meminta maaf atas serangan teroris di Irak atau Suriah, meskipun jumlahnya jauh lebih sedikit di Suriah. Dia mengatakan bahwa: "Tetapi saya belajar bahwa taktik dan prinsip yang saya ikuti di Irak tidak berlaku ketika Anda harus memerintah 4 juta orang"," ungkap Ford.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: YouTube Baltimore Council on Foreign Affairs

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X