Ia pun menceritakan perjuangannya mencari makanan untuk keluarganya.
"Saat itu sekitar pukul 9 malam pada tanggal 18 Juni ketika saya mendengar orang-orang di tenda sebelah bersiap untuk berangkat ke pusat bantuan. Saya memberi tahu tetangga saya di tenda sebelah, Khalil Hallas, berusia 35 tahun, bahwa saya ingin bergabung. Khalil menyuruh saya bersiap-siap dengan mengenakan pakaian longgar, sehingga saya bisa berlari dan lincah," terangnya.
"Kami menumpang tuk-tuk, satu-satunya alat transportasi di Gaza selatan, bersama dengan kereta yang ditarik keledai dan kuda, dengan total 17 penumpang. Termasuk anak-anak berusia 10 dan 12 tahun. Seorang pemuda di dalam kendaraan, yang telah melakukan perjalanan sebelumnya, memberi tahu kami untuk tidak mengambil rute resmi yang ditetapkan oleh tentara Israel. Ia mengatakan bahwa rute tersebut terlalu padat dan kami tidak akan menerima bantuan apa pun. Ia menyarankan kami untuk mengambil rute alternatif yang tidak jauh dari jalur resmi," lanjutnya.
Di tengah perburuan bantuan, ia sempat dihadang rentetan tembakan dari Israel penjajah.
Siapa pun yang bergerak atau membuat gerakan akan langsung ditembak dan menjadi sasaran sniper.
Baca Juga: Setelah Klaim Damaikan Iran-Israel, Trump Kini Berupaya Tengahi Konflik di Wilayah Afrika
"Di sebelah saya ada seorang pemuda jangkung berambut pirang yang menggunakan senter di ponselnya untuk menuntunnya. Yang lain berteriak padanya untuk mematikannya. Beberapa detik kemudian, dia ditembak. Dia jatuh ke tanah dan tergeletak di sana berdarah, tetapi tidak ada yang bisa membantu atau memindahkannya. Dia meninggal dalam hitungan menit. Beberapa pria di dekatnya akhirnya menutupi tubuh pria itu dengan tas kosong yang dibawanya untuk diisi dengan makanan kaleng. Saya melihat setidaknya enam martir lainnya tergeletak di tanah," ujarnya.
Yousef mengaku takut, namun ingatan akan keluarganya membuat ia terus jalan dan melewati daerah yang paling berbahaya.
"Kami semua takut. Tetapi kami ada di sana untuk memberi makan anak-anak kami yang lapar," jelasnya.
Sesampainya di pusat bantuan, ia melihat tentara Israel, ada sekitar 10 atau 20 meter darinya.
"Mereka berbicara satu sama lain, menggunakan ponsel, dan merekam kami. Beberapa mengarahkan senjata ke arah kami. Saya teringat sebuah adegan dari acara TV Korea Selatan Squid Game, di mana membunuh adalah hiburan, sebuah permainan. Kami dibunuh bukan hanya oleh senjata mereka tetapi juga oleh rasa lapar dan malu, sementara mereka melihat kami dan tertawa," katanya getir.***
Artikel Terkait
Dampak Konflik Iran-Israel Kian Melebar, Rosan Roeslani Klaim Arus Investasi Asing ke RI Belum Terganggu
Perang Israel-Iran Sempat Mengganggu Penerbangan Pulang Jemaah Haji Indonesia ke Tanah Air, Begini Update Terbaru dari Menteri Agama
Perang Israel-Iran, Dasco Imbau WNI di Wilayah Konflik Tetap Tenang: Evakuasi Bertahap Terus Dilakukan
Setelah Klaim Damaikan Iran-Israel, Trump Kini Berupaya Tengahi Konflik di Wilayah Afrika
Usai 12 Hari Perang dengan Israel, Menlu Iran Abbas Araghchi Tegaskan soal Ini