Antara Hidup dan Mati, Ini Kesaksian Warga Gaza Berebut Bantuan Kemanusiaan yang Disponsori Israel dan AS: seperti Squid Game

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Sabtu, 28 Juni 2025 | 19:14 WIB
Ilustrasi, Salah satu kesaksian warga Gaza saat berebut bantuan kemanusiaan dari lembaga kemanusiaan Israel dan AS, seperti Squid Game. (X.com/@UNRWA)
Ilustrasi, Salah satu kesaksian warga Gaza saat berebut bantuan kemanusiaan dari lembaga kemanusiaan Israel dan AS, seperti Squid Game. (X.com/@UNRWA)

SENAYANPOST - Seorang warga Gaza, Yousef Al Ajouri, 40 tahun, memberikan kesaksian soal kekacauan yang terjadi saat pembagian bantuan kemanusiaan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF).

Sebagaimana diketahui, GHF merupakan sebuah lembaga kemanusiaan yang disponsori oleh Israel dan Amerika Serikat (AS) untuk memberikan bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza.

Sejauh ini, pembagian bantuan kemanusiaan berlangsung cukup kacau, Yousef menceritakan bagaimana menegangkannya situasi saat ia berebut paket makanan.

Ia juga mengatakan bahwa perjuangannya untuk mendapatkan bantuan kemanusiaan tersebut seperti serial Netflix Squid Game.

"Anak-anak saya selalu menangis karena lapar. Mereka ingin roti, nasi, apa saja untuk dimakan. Belum lama ini, saya punya persediaan tepung dan bahan makanan lainnya. Semuanya habis," kata Yousef Al Ajouri pada 28 Juni 2025, dikutip SenayanPost.com dari Middle East Eye.

Baca Juga: Usai 12 Hari Perang dengan Israel, Menlu Iran Abbas Araghchi Tegaskan soal Ini

Saat ini keluarga Yousef bergantung penuh pada bantuan yang disediakan oleh lembaga-lembaga kemanusiaan.

"Sekarang kami bergantung pada makanan yang didistribusikan oleh dapur amal, biasanya kacang lentil. Namun, itu tidak cukup untuk memuaskan rasa lapar anak-anak saya," lanjutnya.

Yousef sendiri tinggal bersama istri, tujuh anak, orang tuanya di sebuah tenda di Al Saraya, dekat bagian tengah di Kota Gaza.

Ia juga menceritakan rumahnya di Kamp Jabalia hancur total akibat agresi Israel pada Oktober 2023.

Sebelum perang berlangsung, Yousef bekerja sebagai sopir taksi. Karena kekurangan bahan bakar dan blokade Israel, ia memutuskan untuk berhenti bekerja.

Situasi peperangan yang semakin sulit membuat Yusuf terpaksa mencari paket bantuan kemanusiaan.

Baca Juga: AS Surati Dewan Keamanan PBB usai Sempat Menyerang Tiga Fasilitas Nuklir Iran

"Saya tidak pernah pergi menerima paket bantuan sama sekali sejak perang dimulai, tetapi situasi kelaparan sekarang tidak tertahankan. Jadi saya memutuskan untuk pergi ke pusat distribusi bantuan Yayasan Kemanusiaan Gaza yang didukung Amerika di Jalan Salah al-Din, dekat koridor Netzarim," terangnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: Middle East Eye

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X