SENAYANPOST - Amerika Serikat (AS) sampaikan kekhawatiran terkait kekerasan terhadap minoritas di Suriah usai Bashar Al Assad digulingkan.
Hal ini disampaikan langsung oleh AS kepada Menteri Luar Negeri baru Suriah, Asaad Hassan Al Shaybani.
Setelah dinasti Assad berkuasa lebih dari lima dekade dan 13 tahun perang, Suriah berada dalam keadaan yang tidak stabil dan terpecah-pecah.
Banyaknya kelompok bersenjata dan keluhan yang mengakar mendorong pejabat AS untuk khawatir bahwa pembalasan kekerasan oleh militan yang bersekutu dengan pemberontak yang menang.
Baca Juga: SDF Siap Gabung dengan Tentara Suriah Baru di Bawah Kepemimpinan HTS
Khususnya yang menargetkan kelompok minoritas atau mantan afiliasi rezim yang dapat menggagalkan upaya stabilisasi.
Hal ini terjadi ketika bentrokan bersenjata pecah minggu lalu di Tartus antara militan yang terkait dengan rezim Assad dan pasukan polisi yang bersekutu dengan pemerintahan baru, yang mengakibatkan kematian 14 polisi dan beberapa militan, menurut kementerian dalam negeri Suriah.
Tartus dan wilayah pesisir di sekitarnya sebagian besar dihuni oleh penganut Alawi, sekte Islam minoritas yang mencakup sekitar 10 persen dari populasi Suriah.
Banyak anggota elit penguasa yang digulingkan, termasuk keluarga Assad, termasuk dalam sekte ini.
Kekhawatiran meningkat di kalangan penganut Alawi, serta kelompok minoritas Kurdi dan Druze, tentang kemungkinan menjadi sasaran di bawah pemerintahan baru.
Sebagaimana dilansir SenayanPost.com dari Al Mayadeen English pada 31 Desember 2024, Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) melaporkan bahwa 14 anggota pasukan Keamanan Umum di bawah otoritas baru Suriah tewas, bersama dengan tiga pria bersenjata di Khirbet al-Maaza, sehingga jumlah korban tewas meningkat dari jumlah sebelumnya sembilan.
Observatory menambahkan bahwa pasukan tersebut berupaya menangkap seorang perwira yang termasuk di antara "mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan di penjara Saydnaya".
Video yang beredar di media sosial diduga menunjukkan militan yang terkait dengan HTS atau pasukan keamanan pemerintah baru menganiaya pria Alawi selama penangkapan, termasuk tindakan pemukulan, pelecehan verbal, dan penghinaan, bersama dengan ancaman eksplisit terhadap komunitas Alawi.
Artikel Terkait
Ratusan Warga Suriah di Damaskus Protes Usai Pohon Natal Dibakar di Suqaylabiyah
Presiden Turki Erdogan soal Agresi Israel ke Dataran Tinggi Golan, Sebut Melemahkan Revolusi Suriah
Menhan Israel soal Suriah: Kami Sukses Gulingkan Bashar Al Assad
Ahmad Al Sharaa Pemimpin Baru Suriah Bakal Lebur Faksi Oposisi Bersenjata, Satu Kelompok Ini Tidak Termasuk
SDF Siap Gabung dengan Tentara Suriah Baru di Bawah Kepemimpinan HTS