Para pejuang RCA yang menduduki pangkalan di Palmyra mengatakan mereka telah diperintahkan untuk bersiap menghadapi penggulingan pemerintah Suriah pada awal November, hampir tiga minggu sebelum serangan dimulai.
Baca Juga: Yaman Kirim Rudal Balistik ke Tel Aviv saat Israel Bombardir Sanaa
Sebagaimana diketahui, militan yang didukung AS dan Turki dari bekas afiliasi Al-Qaeda HTS melancarkan serangan di pedesaan Aleppo pada 27 November.
Mereka merebut Damaskus, dengan bantuan dari kelompok Tentara Pembebasan Suriah (FSA) dari Deraa di Suriah selatan dan pejuang RCA dari Al-Tanf pada 8 Desember.
RCA sekarang menduduki sekitar seperlima wilayah Suriah, termasuk kantong-kantong wilayah di utara ibu kota, Damaskus.
Kesaksian para pejuang menunjukkan bahwa Washington mengetahui tentang serangan yang dipimpin oleh HTS dan membantu merencanakan dan mengoordinasikannya.
Baca Juga: Hamas Sebut Gencatan Senjata di Gaza Makin Dekat Jika Israel Penjajah Tak Lakukan Hal Ini
Dikenal juga sebagai Tentara Pembebasan Suriah (FSA), RCA menunjuk mantan kepala ISIS, Salem Turki al-Antari, sebagai komandan mereka awal tahun ini.
Antari berasal dari kota kuno Palmyra di Suriah. Menurut ASO Network, ia bergabung dengan ISIS pada tahun 2014, dengan nama panggilan Abu Saddam al-Ansari.
Kelompok ekstremis itu mengangkatnya sebagai Emir wilayah gurun Badia di Homs.
Antara tahun 2015 dan 2017, Antari ikut serta dalam pengambilalihan Palmyra oleh ISIS dan pertempuran dengan tentara Suriah yang terjadi setelahnya.
Serangan ISIS di Palmyra menghancurkan sebagian warisan budaya Suriah yang paling berharga.***
Artikel Terkait
Israel Terus Lumpuhkan Kemampuan Militer Suriah, Serang Tartus hingga Timbulkan Gempa Kecil
Israel Duduki Dataran Tinggi Golan Suriah, Bakal Bikin Pemukiman Ilegal Baru
Bashar Al Assad Buka Suara Usai Damaskus Jatuh ke Tangan HTS: Saya Tidak Pernah Khianati Suriah
Israel Bakal Duduki Gunung Hermon di Dataran Tinggi Golan Suriah dalam Waktu Lama
Krisis Suriah Membongkar Kepentingan Para Lord Proxy