Serangan terbaru perlawanan Lebanon terhadap Tel Aviv terjadi setelah tentara Israel secara signifikan meningkatkan serangannya di seluruh Lebanon, menghantam negara itu lebih dari 300 kali dalam rentang waktu 48 jam.
Saat perang yang didukung AS terus meningkat, utusan khusus AS Amos Hochstein sedang dalam perjalanan ke Beirut untuk melanjutkan perundingan gencatan senjata.
Pada Senin malam, media Barat melaporkan bahwa Lebanon dan Hizbullah telah menyetujui usulan AS untuk gencatan senjata dengan Israel dengan beberapa komentar tentang isinya.
"Kami mengajukan serangkaian hal yang tidak dapat dinegosiasikan dalam kerangka gerakan politik, yang terpenting adalah perlunya menghentikan perang," kata anggota parlemen Hizbullah Ihab Hamadeh kepada media Arab pada hari sebelumnya.
Baca Juga: Kepala Staf Netanyahu Diduga Manipulasi Pembicaraan 7 Oktober 2023
Ia menambahkan bahwa hal yang tidak dapat dinegosiasikan lainnya termasuk memastikan bahwa gencatan senjata melindungi kedaulatan Lebanon.
"Bahwa pendudukan tidak boleh mencapai dalam politik apa yang gagal dicapainya di lapangan," terangnya.
"Kami tidak dapat membuat konsesi yang memengaruhi kedaulatan negara kami," kata Hamadeh.***
Artikel Terkait
76 Tahun Penjajahan Israel, Indonesia di KTT Luar Biasa OKI dan Liga Arab: Kita Semua Palestina!
Kelaparan di Gaza Makin Parah, AS Tarik Ancaman untuk Berhenti Kirim Senjata ke Israel
Hizbullah Serang Markas Militer Israel di Tel Aviv Dua Kali Sehari
Pembantaian Makin Parah di Gaza Utara, Israel Penjajah Usir 100 Ribu Rakyat Palestina dalam 24 Jam Terakhir
Komite Khusus PBB Sebut Agresi Israel ke Jalur Gaza Mengarah Genosida