SENAYANPOST - Pihak keamanan Israel telah mengamankan beberapa ajudan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu karena diduga bocorkan informasi penting ke media asing.
Hal tersebut terungkap setelah dokumen pengadilan dirilis pada 3 November lalu yang menerangkan bahwa intelijen tersebut diduga mengklaim Hamas berencana selundupkan tawanan Israel dari Gaza ke Mesir.
Para pemimpin oposisi mengatakan intelijen tersebut dibocorkan untuk meredakan tekanan terhadap Netanyahu agar mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas yang akan membawa pulang sekitar 100 tawanan Israel yang masih ditahan oleh gerakan perlawanan Palestina. Diperkirakan sekitar 70 orang masih hidup.
Netanyahu telah berulang kali menyabotase pembicaraan gencatan senjata dengan Hamas sejak dimulainya perang pada 7 Oktober tahun lalu, meskipun ada tekanan kuat dari keluarga para tawanan untuk mencapai kesepakatan.
Baca Juga: Hadapi Hizbullah, 50 Ribu Tentara Israel Gagal Rebut Satu Kota pun di Lebanon
Sebagaimana dilansir SenayanPost.com dari The Cradle pada 4 November 2024, dokumen pengadilan yang dirilis pada hari Minggu mengidentifikasi Eliezer Feldstein, seorang ajudan Netanyahu, sebagai salah satu dari beberapa orang yang ditahan dan diinterogasi atas kebocoran 'informasi intelijen rahasia dan sensitif'.
Nama keempat orang yang ditahan lainnya belum diizinkan untuk dipublikasikan oleh sensor militer Israel.
Informasi intelijen tersebut bocor ke dua media asing, Jewish Chronicle di Inggris dan Bild di Jerman, yang keduanya menerbitkan cerita tentang informasi intelijen yang bocor tersebut.
Jewish Chronicle kemudian menarik kembali ceritanya.
Baca Juga: Hamas Tuding Israel Tidak Ingin Gencatan Senjata di Gaza, Sebut Hanya Kamuflase
Dokumen pengadilan mengatakan bahwa informasi yang diambil dari sistem militer Israel dan 'dikeluarkan secara ilegal' mungkin telah merusak kemampuan Israel untuk membebaskan para tawanan yang ditahan oleh Hamas di Gaza.
Pemimpin oposisi Yair Lapid pada hari Minggu menuduh kantor perdana menteri membocorkan dokumen rahasia palsu.
"Dokumen rahasia palsu untuk menggagalkan kemungkinan kesepakatan penyanderaan untuk membentuk operasi pengaruh opini publik terhadap keluarga para sandera," kata Yair Lapid.
Dengan mengklaim bahwa pemimpin Hamas Yahya Sinwar berencana untuk melarikan diri ke Mesir bersama para tawanan, dokumen yang bocor tersebut tampaknya mendukung klaim Netanyahu di benak publik Israel bahwa setiap kesepakatan gencatan senjata harus memungkinkan Israel untuk mempertahankan pasukannya di Koridor Philadelphia, yang membentang di sepanjang perbatasan Gaza-Mesir.
Artikel Terkait
Laporan NYT Ungkap Netanyahu Tambah Syarat Baru Gencatan Senjata di Gaza
AS Ultimatum Israel dan Hamas, Kesempatan Terakhir Gencatan Senjata di Gaza
Netanyahu 'Sabotase' Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza, Joe Biden Justru Bilang Begini
Menlu Sugiono di KTT BRICS Plus: Indonesia Siap Bergabung, Desak Gencatan Senjata di Gaza
Hamas Tuding Israel Tidak Ingin Gencatan Senjata di Gaza, Sebut Hanya Kamuflase