Salim Al Kutubi
Pengamat Politik Uni Emirates Arab
Tidak ada keraguan bahwa apa yang terjadi saat ini di Lebanon dan Jalur Gaza Palestina merupakan titik balik dan tahapan penting dalam membatasi aturan-aturan tatanan dunia baru.
Timur Tengah pada akhirnya adalah salah satu wilayah konflik dan perebutan pengaruh. Oleh karena itu, dampak strategis isu-isu di Timur Tengah melampaui beberapa aktor utama dalam konflik yang berkaitan dengan sejumlah organisasi seperti Hamas Palestina dan Hizbullah Lebanon.
Pada akhirnya keduanya hanyalah proxy yang digerakkan oleh kekuatan regional yang pada gilirannya berupaya mengubah aturan main dan memaksakan apa yang disebut Poros muqawamah sebagai pemain utama di kawasan Timur Tengah.
Saat ini sulit untuk membuat prediksi atau estimasi yang akurat mengenai dampak dari pertempuran di Lebanon Selatan dan Jalur Gaza Palestina, karena permasalahan ini tidak hanya diukur dari jalannya perang, namun secara mendasar terkait dengan apa yang didiskusikan pada meja perundingan akan mengarah pada apakah yang terjadi sekarang.
Namun apa yang bisa diharapkan adalah adanya realitas strategis baru yang akan terjadi di Timur Tengah. Di sini, situasi dapat dibaca dalam konteks geostrategis dan geopolitik yang lebih luas dan komprehensif yang mencakup titik-titik konflik regional yang paralel seperti yang masih berlangsung Sudan, Libya, Yaman, Somalia, Irak dan Suriah.
Salah satu skenario yang diharapkan adalah bahwa Israel akan berhasil mencapai tujuannya untuk menghilangkan ancaman dari Hizbullah Lebanon, dalam kerangka mengepung apa yang Menteri Pertahanan Israel Yoav Galant gambarkan sebagai senjata gurita Iran, dan kemudian berusaha untuk menghilangkan kepalanya.
Israel telah mencapai hasil yang penting, terutama pembunuhan beberapa pemimpin tinggi Hizbullah Lebanon, yang pasti akan mempengaruhi efektivitas partai dan kemampuannya dalam mengambil keputusan, karena dibutuhkan waktu yang lama untuk menata ulang struktur keorganisasian Hizbullah Lebanon.
Kekosongan kepemimpinan akibat pembunuhan baru-baru ini merupakan masalah nyata meskipun sengitnya pertempuran yang terjadi di Lebanon Selatan antara para milisi bersenjata Hizbullah Lebanon dan pasukan Israeli Defense Force (IDF), karena sebagian besar infrastruktur tempur Hizbullah Lebanon masih beroperasi, dan oleh karena itu struktur ini diperkirakan tidak akan sepenuhnya dihilangkan setelah para pemimpinnya terbuhun.
Mengurangi ancaman Hizbullah dan menetralisir dampak serangan dari milisi Houthi Yaman akan mendorong Israel untuk melanjutkan ke operasi militer tahap kedua dalam perencanaan strategis, yaitu menghancurkan infrastruktur proyek nuklir Iran untuk menghancurkan segala bentuk ancaman yang dihadapi Israel. Ini adalah langkah yang mungkin dilihat oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang saat ini merupakan peluang ideal untuk mencapai tujuan tersebut, baik dalam informasi intelijen militer dan membatasi kemampuan senjata Iran untuk merespons, termasuk dalam hal dukungan absolut Amerika Serikat, yang didorong oleh perhitungan politik yang terperinci dari dari pemilihan presiden Amerika Serikat, yang semakin dekat, pemerintahan Joe Biden akan semakin antusias untuk menyatakan dukungannya kepada Israel tanpa ragu-ragu, karena khawatir bahwa kelalaian apa pun dapat mempengaruhi hasil pemilu bulan November 2024 mendatang.
Dalam perhitungan keuntungan dan kerugian dari sudut pandang Israel, terdapat godaan yang akan terjadi untuk menyerang fasilitas nuklir Iran, namun Israel mungkin tidak akan terburu-buru sampai mereka benar-benar menciptakan kondisi yang diperlukan. Kondisi-kondisi tersebut, dan yang akan terjadi beberapa hari ke depan adalah dengan memancing Iran untuk melakukan serangan-serangan besar terhadap Israel sehingga memberikan Israel legitimasi untuk merespons sesuai dengan metode yang dianggapnya tepat untuk mencapai pembenaran dan menghadapi ancaman-ancaman terhadapnya yang diekspos.