Indonesia Membangun Perdamaian untuk Solusi Isu Palestina

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Selasa, 6 Februari 2024 | 12:59 WIB
BANTUAN KEMANUSIAN - Prosesi pelepasan Kapal rumah sakit TNI KRI dr. Radjiman Wedyoningrat-992 yang mengirim bantuan kemanusiaan untuk Palestina di Dermaga Markas Komando Lintas Laut Militer, Jakarta, Kamis (18/1/2024).  (HO/KLIKTIMES.COM/KEMNHAN)
BANTUAN KEMANUSIAN - Prosesi pelepasan Kapal rumah sakit TNI KRI dr. Radjiman Wedyoningrat-992 yang mengirim bantuan kemanusiaan untuk Palestina di Dermaga Markas Komando Lintas Laut Militer, Jakarta, Kamis (18/1/2024). (HO/KLIKTIMES.COM/KEMNHAN)

 

 

Hisyam An Najjar

CAIRO- Walaupun tidak adanya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel, sejatinya Indonesia ingin menerobos stagnasi isu-isu Palestina yang terjerumus ke arah konflik bersenjata dengan memberikan kesempatan bagi bangsa dan rakyat Indonesia untuk membantu Palestina dan memperkuat hubungan kekanseleran. Indonesia telah memiliki Konsulat Kehotmatan untuk Palestina yang berkedudukan di Amman Yordan yaitu Madam Mahe Abu Shusheh.

Berdasarkan komitmennya sebagai negara Islam terbesar, dan karena kekhawatiran akan dampak perang di Gaza yang berkepanjangan terkait kemungkinan kemungkinan kelompok-kelompok ekstremis mengambil keuntungan dari hal tersebut, dalam propaganda perang dan kegiatan rekrutmen terorisme-terorisme baru, Indonesia menyadari bahwa sudah waktunya untuk hadir sebagai pembawa perdamaian agar isu-isu Palestina tidak dikuasai oleh kelompok-kelompok ekstremis.

Pada Desember 2023, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya di Jawa Timur menyerukan diadakannya seminar dan penggalangan dana untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina. Antusiasme peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa cukup tinggi sehingga berhasil mengumpulkan lebih dari 100 juta rupiah, hanya dalam waktu kurang dari tiga jam.

Indonesia memperingatkan rencana Israel yang mengeksploitasi serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober, yang mengakibatkan serangan balasan dan genosida. Israel ingin menghapuskan eksistensi rakyat Palestina dan membentuk negara baru yang tersendiri yaitu Israel Raya.

Para elit intelektual dan politik Indonesia menganggap Negara Arab dan Negara Islam bertanggung jawab untuk mengambil tindakan dan melakukan apa yang diperlukan untuk mencegah terwujudnya skenario yang mengancam stabilitas semua negara di dunia. Negara Islam dan Negara Arab tidak bisa meninggalkan peran historis dan peran mereka dengan dalih bahwa apa yang terjadi terjadi akibat kesalahan dan kecerobohan pihak tertentu.

Para pakar Indonesia yang dekat dengan para pengambil kebijakan percaya bahwa bagian dari kemalangan yang menimpa rakyat Palestina. Hal ini diakibatkan oleh keengganan sebagain faksi Palestina untuk menerapkan solusi yang mencapai kepentingan bersama mereka, karena sudah jauh dari strategi cerdas yang disusun oleh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sejak kepemimpinan Yasser Arafat antara tahun 1994 hingga tahun 2004.

Prof. Dr. Abdullah Mahmud Hendropriyono, Guru Besar Emeritus Universitas Pertahanan Indonesia, menjelaskan bahwa rencana dan langkah jangka panjang menuju kemerdekaan membutuhkan solidaritas seluruh warga Palestina dan penguatan PLO, diganggu oleh upaya organisasi politik islamis seperti Hamas. Hal ini yang membuat rakyat Palestina mengalami penderitaan terberat, yang belum pernah dialami umat manusia dalam sejarah dunia.

Prof Dr Abdullah Mahmud Hendropriono, yang saat ini merupakan Guru Besar Filsafat Intelijen dan antara tahun 2001-2004 menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Negara, berpandangan bahwa para pemimpin Negara Arab dan Negara Islam Islam, meskipun memiliki keinginan untuk mendukung Palestina dan berkontribusi untuk menyelesaikan masalah secara adil, namun adanya hubungan antara Hamas dengan agenda kepentingan global Republik Islam Syiah Iran membuat mereka terkekang secara politik.

Ketergantungan Hamas pada kepentingan Iran sangat mengurangi keinginan dan kemampuan para pemimpin dunia Arab dan dunia Islam Sunni, termasuk Indonesia, untuk berperan dalam mencapai solusi realistis terhadap dilema Palestina. Padahal, mereka yang memiliki kunci untuk menyelesaikannya. Hanya saja, mereka dikhianati oleh para pemimpin Hamas dan kelompok-kelompok ekstremis lainnya.

Ada keyakinan di kalangan para pakar dan para politisi Indonesia bahwa upaya yang sia-sia dan khayalan untuk mencapai tujuan mustahil yang digagas Republik Islam Iran, yaitu menghapus Israel dari peta dunia, merupakan titik lemah bagi Negara Arab dan Negara Islam Sunni dalam mendukung perjuangan utama dan peran penting Negara Arab dan Negara yang kuat dan berpengaruh di Afrika dan Asia seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir dan Indonesia.

Mereka mendapati bahwa harapan mereka tertuju pada perbaikan kesalahan di tahun-tahun lalu, menempatkan segala sesuatunya dalam perspektif yang benar, dan mengembalikan permasalahan tersebut kepada pemilik sebenarnya. Kemudian mereka dapat bekerja keras dengan tulus, dan bijaksana, serta bersikap realistis, untuk memulihkan hak-hak dan martabat Bangsa Palestina.

Dan tidak akan tercapai kemajuan dan keberhasilan yang sebenarnya kecuali jika dicapai melalui upaya para pendukung pemimpin Palestina dan memungkinkan Fatah untuk mengambil kendali memimpin Palestina menuju pencapaian kemerdekaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

X