Hubungan Gelap Ikhwanul Muslimin dan Amerika Serikat

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Selasa, 6 Februari 2024 | 11:41 WIB
Khalid Al Adod (Mushab Muqoddas)
Khalid Al Adod (Mushab Muqoddas)

Meskipun demikian, sejarawan Amerika, Frederick William Engdahl, berpendapat bahwa Ikhwanul Muslimin hanyalah alat dan sarana yang digunakan Amerika Serikat untuk kepentingannya sendiri, terutama dengan kelompok teroris internasional yang memiliki jaringan dan ideologi islamisme yang radikal serta mempunyai pengaruh besar dalam perekonomian wilayah tertentu di dunia, dan berinteraksi dengan pihak lain, dari sisi politik, individu, atau organisasi lain.

Permainan perekrutan Ikhwanul Muslimin secara politis dimulai oleh Intelijen Amerika Serikat, sejak Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser mengusir para pimpinan dan kader Ikhwanul Muslimin dari Mesir pada dekade 1950-an. Sebelumnya, Ikhwanul Muslimin telah memiliki hubungan dengan intelijen Inggris, sehingga intelijen Amerika mencoba untuk mengeksploitasi kemampuan mereka.

Oleh karena itu, kita selalu menemukan para pejabat tinggi di Amerika Serikat yang bersikeras mendukung munculnya kelompok-kelompok teroris yang berasal dari rahim Ikhwanul Muslimin. Tidak jauh dari kita bahwa Presiden Amerika Barrack Obama dan Menteri Luar Negerinya Hillary Clinton mendukung Ikhwanul Muslimin dan kelompok-kelompok teroris yang berasal dari rahim Ikhwanul Muslimin  seperti Al Qaeda dan ISIS, dalam malapetaka Arab Spring.

Saya percaya bahwa masih ada peran Ikhwanul Muslimin dalam Langkah-langkah politik luar negeri Amerika Serikat, karena kemungkinan besar Ikhwanul Muslimin akan digerakkan  dengan tujuan untuk menentang dan melawan pengaruh dan kepentingan Tiongkok dan Rusia di Negara Arab, Dunia Islam, Asia, dan Afrika. Dan hal ini sudah dimulai.

Berikut adalah bukti-bukti yang ingin penulis tunjukkan dengan ringkas, yang menjadi alasan paling penting, yang mencegah Amerika Serikat untuk tidak mengklasifikasikan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris, yaitu:

Pertama: Lobi oleh organisasi-organisasi yang setia kepada Ikhwanul Muslimin di banyak pusat pemerintahan.

Kedua: Peringatan berulang kali dari Kemenetrian Luar Negeri Amerika Serikat bahwa keputusan tersebut akan berdampak pada hubungan Amerika Serikat dengan Timur Tengah.

Ketiga: tekanan dari beberapa organisasi seperti Human Rights Watch yang menganggap Ikhwanul Muslimin hanya sekedar gerakan politik dan sosial.

Keempat: Konflik di lembaga-lembaga kajian Amerika Serikat antara mereka yang menganggap semua kelompok Islam sebagai kelompok ekstremis, dan pihak lain yang percaya bahwa kelompok ekstremis dan moderat dapat dibedakan.

Kelima: Sulitnya melaksanakan keputusan tersebut, dan bagaimana menghadapi negara-negara sahabat Amerika Serikat, seperti Kuwait, Yordania, Tunisia, Maroko, dan lain-lain, karena Ikhwanul Muslimin memiliki representasi di parlemen negara-negara tersebut.

Keenam: Peran kotor beberapa media dan partai politik sayap kiri Partai Demokrat dan organisasi-organisasi sayapnya, baik tengah maupun kiri, berfungsi sebagai celah untuk mendukung Ikhwanul Muslimin dan organisasi-organisasi sayapnya, di dalam dan di luar Amerika Serikat.

 

Diterjemahkan dari Al Arabiya Net Arab Saudi pada Senin 5 Februari 2024

Penerjemah : Mush’ab Muqoddas, Lc

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

X