Wadirut MIND ID Pastikan Sudah Saatnya Indonesia Kejar Pertumbuhan Ekonomi hingga 8 Persen

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Rabu, 11 Februari 2026 | 21:04 WIB
Wadirut MIND ID Dany Amrul Ichdan berpandangan Indonesia sudah saatnya kejar pertumbuhan ekonomi 8 persen. (Dok. Promedia)
Wadirut MIND ID Dany Amrul Ichdan berpandangan Indonesia sudah saatnya kejar pertumbuhan ekonomi 8 persen. (Dok. Promedia)

SENAYANPOST - Wakil Direktur Utama (Wadirut) Mining Industry Indonesia (MIND ID), Dany Amrul Ichdan mengatakan Indonesia harus keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah, sudah saatnya 'naik kelas' dengan mengejar pertumbuhan ekonomi 8 persen.

Dany menuturkan, keunggulan komparatif yang dimiliki harus dioptimalkan untuk bisa memberi kontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih besar lagi.

Hal itu disampaikannya dalam acara Studium Generale dengan topik "Ekonomi Inklusif untuk Indonesia Naik Kelas" di Aula Barat ITB Bandung, pada Rabu, 11 Februari 2026.

Pada kesempatan itu, hadir pula Menko Bidang Pemberdayaan Masayarakat, Muhaimin Iskandar dan Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara.

Baca Juga: Ketika AI Menjadi Dalil: Bias, Disinformasi, dan Ujaran Kebencian di Ruang Publik Digital

Dalam pernyataannya, Dany menilai selama bertahun-tahun ekonomi Indonesia cenderung terjebak di kisaran pertumbuhan 5 persen karena struktur ekonomi yang masih bertumpu pada komoditas mentah dan nilai tambah yang terbatas.

"Selama lebih dari satu dekade, ekonomi Indonesia seolah nyaman di angka 5%. Padahal, dengan modal yang kita miliki, Indonesia seharusnya mampu melompat ke tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi," kata Dany.

Strategi pembangunan berkualitas ini diuraikan juga dalam bukunya berjudul 'Indonesia Naik Kelas' yang diluncurkan akhir tahun 2025.

Cadangan Mineral Jadi Peluang Besar

"Indonesia sesungguhnya memiliki keunggulan. Cadangan mineral strategis Indonesia menempati peringkat teratas dunia, mulai dari timah, nikel, emas, bauksit hingga batubara, dengan usia cadangan puluhan tahun," terang Dany.

Kendati demikian, Dani menilai potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal.

Kontribusi penerimaan pajak dan royalti terhadap PDB Indonesia masih berada di kisaran 9-10 persen, jauh di bawah praktik negara-negara maju yang sudah mencapai 30-40 persen.

Baca Juga: Nilai Banyak Orang Salah Persepsi soal Biaya Kesehatan, Dirut BPJS Ali Ghufron Mukti: Dikira Murah, Padahal Mahal

Kondisi ini mencerminkan masih dominannya ekspor bahan mentah dan lemahnya hilirisasi industri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X