Ekonom Peringatkan Rendahnya Free Float Saham Bikin IHSG Rentan Manipulasi Harga

photo author
Ragil Firdaus, Senayan Post
- Minggu, 1 Februari 2026 | 19:16 WIB
Dr. Noviardi Ferzi
Dr. Noviardi Ferzi

SENAYANPOST – Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 8 persen pada perdagangan Rabu (28/1/26) yang memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham dinilai sebagai puncak krisis kepercayaan pasar.

Pengamat ekonomi Dr. Noviardi Ferzi menilai rendahnya free float saham pada banyak emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menjadi masalah struktural serius yang membuat pasar modal nasional rentan manipulasi, tidak efisien, dan rawan krisis kepercayaan.

Menurut Noviardi, dominasi pemegang saham pengendali yang terlalu besar, dengan porsi saham publik yang minim, menyebabkan mekanisme pasar kehilangan fungsi utamanya sebagai sarana pembentukan harga yang adil dan berbasis fundamental.

“Ketika free float terlalu kecil, pasar menjadi dangkal. Harga saham mudah digerakkan, likuiditas semu, dan investor ritel berada pada posisi paling rentan. Ini bukan pasar yang sehat,” tegas Noviardi, Minggu, (1/2/26).

Baca Juga: Presiden AS Donald Trump Berharap Iran Terima Kesepakatan dengan Washington, Singgung soal Senjata Nuklir

Ia menilai, fenomena lonjakan harga saham secara ekstrem yang kerap diikuti kejatuhan tajam bukan semata persoalan perilaku investor, melainkan konsekuensi langsung dari struktur kepemilikan saham yang timpang.

Dalam kondisi tersebut, pergerakan harga lebih ditentukan oleh kelangkaan saham di publik ketimbang kinerja perusahaan.

Lebih jauh, Noviardi mengingatkan bahwa free float kecil juga menciptakan distorsi persepsi nilai pasar. Kapitalisasi saham terlihat besar, namun tidak didukung likuiditas memadai, sehingga berisiko menimbulkan gejolak sistemik ketika terjadi aksi jual besar atau perubahan sentimen global.

“Pasar modal Indonesia terlihat besar di permukaan, tetapi rapuh di dalam. Begitu terjadi tekanan, saham-saham ber-free float kecil paling cepat ambruk dan menyeret sentimen IHSG,” ujarnya.

Baca Juga: Jadwal Tayang dan Link Nonton To My Beloved Thief Episode 10 Sub Indo

Ia juga menyoroti implikasi global dari persoalan ini. Dalam standar internasional, free float merupakan indikator utama tata kelola dan kedalaman pasar. Ketika porsi saham publik tidak memadai, minat investor institusi asing akan menurun karena risiko likuiditas dan manipulasi yang tinggi.

“Kalau Indonesia ingin diperlakukan setara dengan pasar berkembang yang matang, maka standar free float tidak bisa lagi ditoleransi rendah. Investor global tidak hanya melihat cerita pertumbuhan, tetapi juga kualitas struktur pasar,” kata Noviardi.

Karena itu, ia mendesak otoritas pasar modal untuk memperbesar free float saham secara bertahap namun tegas, bukan sekadar memenuhi angka minimum formal. Menurutnya, kebijakan ini penting untuk mengurangi volatilitas ekstrem, memperkuat kepercayaan investor, serta mencegah pasar modal menjadi arena spekulasi jangka pendek.

“Pasar modal bukan kasino. Tanpa free float yang memadai, kita sedang membiarkan praktik yang merusak kepercayaan publik. Memperbesar free float adalah prasyarat mutlak untuk pasar yang kredibel dan berkelanjutan,” pungkasnya. *

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ragil Firdaus

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X